Kota-kota Paling Romantis di Tiongkok

Membicarakan mengenai Tiongkok seakan tidak ada habisnya. Beberapa kota di negeri tirai bambu ini memang dikenal dengan kecantikan sekaligus keromantisannya, di tengah hiruk pikuk kesibukan kota dan keindividualisme para penduduknya.

Ada banyak kota di Tiongkok yang berkesan bagiku. Bahkan, terkadang ingin membuatku untuk kembali lagi. Kota-kota berikut ini mungkin bisa menjadi referensimu saat kamu merencanakan berlibur ke Tiongkok, tentunya setelah pandemi berakhir, ya.

Beijing

Dikenal sebagai ibukota Tiongkok, Beijing merupakan tempat yang romantis, terutama jika kamu suka segala sesuatu yang unik dan vintage. Yang pasti, kamu wajib mengunjungi Tembok Besar, entah itu melalui jalur Mutianyu atau Badaling. Sebab, ada pepatah lama yang mengatakan bahwa siapa saja yang pertama kali menginjakkan kaki di Beijing, maka wajib mengunjungi Tembok Besar. Sebenarnya, anggapan ini tak salah juga, karena Beijing memang lebih dikenal oleh penduduk dunia karena adanya Tembok Besar yang merupakan salah satu peninggalan bersejarah masa lalu.

Selain itu, makanan halal juga mudah dan banyak ditemukan di Beijing. Jadi, bagi kamu umat Islam tidak perlu terlalu khawatir.

Tianjin

Jika kamu merasa bosan dengan suasana Beijing yang macet dan monoton, kamu bisa pindah ke Tianjin. Beijing dan Tianjin sangat dekat, hanya satu jam naik kereta. Jika Beijing ibarat Jakarta, Tianjin ibarat Tangerang. Cukup dekat, bukan? Jadwal kereta dari Beijing ke Tianjin maupun sebaliknya juga tersedia setiap jamnya dengan berbagai pilihan kereta.

Berbanding terbalik dengan arsitektur Beijing yang banyak bangunan-bangunan kuno, di Tianjin justru banyak terdapat bangunan-bangunan khas arsitektur Eropa. Rusia, lebih tepatnya. Jika kamu ingin berfoto dengan latar belakang bangunan ala Eropa, tapi budgetmu terbatas, kamu bisa mempertimbangkan pergi ke Tianjin. Kujamin, deh, siapa saja yang melihat fotomu nantinya pasti akan salah mengira bahwa kamu berfoto di Tianjin!

Oh, ya, ada satu tempat wisata terkenal di Tianjin yang namanya Tianjin Eye. Kamu bisa menikmati keromantisan Tianjin pada malam hari di tempat ini. Indahnya kelap-kelip lampu, apalagi saat bulan purnama, membuat Tianjin makin romantis!

Shanghai

Sebagai kota yang sibuk, kuakui Shanghai mempunyai pesonanya sendiri. Sama seperti Hong Kong, kota ini seolah tak pernah mati. Ada banyak tempat-tempat romantis yang tersembunyi di kota ini, tidak melulu naik cruise mengelilingi Sungai Huangpu atau berswafoto di The Bund.

Suasana malam Kota Shanghai.

Kalaupun tidak ingin berada di tengah hiruk pikuk Shanghai yang bising, kamu bisa melipir ke kota lama Zhujiajiao, sebuah tempat di pinggiran Shanghai yang tidak kalah cantiknya. Terdapat banyak bangunan kuno dan artistik di kota ini, dengan kanal-kanal yang lebar, yang membawamu seakan berada di Tiongkok zaman kuno.

Psst, kabarnya, Zhujiajiao adalah salah satu setting dalam film Mission Impossible 3.

Nanchang

Kamu ingin pergi ke Beijing untuk mendaki ke Tembok Besar tapi tidak kuat menanjak? Atau tidak ingin pergi ke Tembok Besar karena jumlah turisnya yang membludak dan tidak ingin berdesakan? Jangan khawatir. Kamu bisa pergi ke Nanchang.

Nanchang adalah ibukota Provinsi Jiangxi. Letaknya di Tiongkok bagian tengah. Kota ini mungkin tidak terlalu populer di telinga turis asing. Namun, kalau kamu tidak bisa mendaki Tembok Besar di Beijing, pemerintah Tiongkok telah menyediakan replikanya di Nanchang.

Replika Tembok Besar di Nanchang, Provinsi Jiangxi.

Tempat ini sangat cantik dan terletak di Nanchang bagian timur. Panjang replika Tembok Besar ini sekitar 4 kilometer, dengan sudut tanjakan yang tidak terlalu ekstrem jika dibandingkan dengan Tembok Besar di Beijing.

Dandong

Dandong terletak di Provinsi Liaoning, perbatasan antara Tiongkok dan Korea Utara. Selama ini Korea Utara dikenal sebagai salah satu negara yang tertutup di dunia.

Jika kamu datang ke Dandong, kamu bisa mengintip kehidupan rakyat Korea Utara dari dekat. Banyak warga Korea Utara yang bekerja di Dandong sebagai pelayan restoran atau bekerja di sekitar imigrasi. Kerajinan atau kuliner khas Korea Utara juga cukup banyak ditemukan di Dandong.

Tiongkok dan Korea Utara dipisahkan oleh sungai yang bernama Sungai Yalu, atau dalam bahasa Korea disebut Sungai Amnok. Pemandangan di sekitar tepi Sungai Yalu juga cukup bagus, terutama saat malam. Boleh dikatakan bahwa kota ini adalah perpaduan cita rasa Tiongkok dan Korea Utara, baik dari segi budaya, kuliner, dan bahasa.

Kamu bisa pergi ke Dandong dengan menggunakan kereta dari Beijing maupun Shenyang dengan tujuan Pyongyang, Korea Utara.

Dali

Dali terletak di Provinsi Yunnan, sebuah provinsi yang berbatasan dengan Myanmar. Untuk menuju ke Dali, dibutuhkan waktu sekitar 6 jam naik kereta dari Kunming, ibukota Provinsi Yunnan.

Dali terletak di dataran tinggi dan termasuk salah satu kota kuno yang sangat populer, baik untuk turis Tiongkok maupun turis asing. Bahkan, dalam sebuah lagu populer yang berjudul 带你去旅行 Dai Ni Qu Lv Xing (Membawamu Pergi Berlibur) ada kata-kata 还有云南的大理保留着会议 yang artinya: menyimpan memori di Dali, Yunnan. Ini artinya bahwa Dali merupakan destinasi liburan yang sangat berkesan dalam ingatan siapa saja yang datang ke kota ini.

Pemandangan langit malam di Dali juga sangat indah. Mungkin karena tidak tercemar oleh polusi udara dan letaknya di pegunungan. Bahkan, jika beruntung, kamu bisa menyaksikan indahnya Galaksi Bimasakti dengan mata telanjang di Dali.

Nah, setelah membaca artikel ini, kota mana yang menurutmu paling romantis dari daftar di atas?

Kota yang Menjadi Tempat Kuliner Favorit di Tiongkok

Sebagai sebuah negara besar dan berpenduduk paling banyak di muka bumi, masing-masing kota di Tiongkok punya beraneka ragam kuliner dengan cita rasanya sendiri-sendiri. Rekomendasi aneka kuliner berikut adalah pendapat dan selera pribadiku selama aku bekerja di Tiongkok, yang mungkin saja tidak sama dengan orang lain. Namun, referensiku ini bisa kamu gunakan jika suatu saat kamu pergi ke Tiongkok.

Pertama-tama, perlu kita ketahui bahwa orang Indonesia sangat tergantung pada beras sebagai makanan pokok. Ada pepatah jika seseorang belum makan jika tidak makan nasi. Ada pula beberapa temanku yang mengatakan bahwa mereka masih lapar saat berada di luar negeri, lantaran tidak makan nasi. Sebanyak apa pun roti, mi, dan pizza yang mereka makan, rasanya tidak sekenyang nasi. Namun, mungkin ini hanya sugesti saja atau kondisi masing-masing orang.

Tiongkok dibagi menjadi dua bagian, yaitu Tiongkok Utara dan Tiongkok Selatan. Dua bagian ini dipisahkan oleh Sungai Yangtze atau Sungai Changjiang 长江, yang artinya adalah Sungai Panjang. Masyarakat Tiongkok bagian utara mengkonsumsi aneka makanan yang berbahan dasar gandum, sedangkan masyarakat Tiongkok bagian selatan mengkonsumsi aneka makanan yang berbahan dasar beras.

Mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa beras hanya ditemukan di Tiongkok bagian selatan? Hal ini karena padi lebih mudah tumbuh di tanah di Tiongkok bagian selatan. Sebagaimana kita tahu, Thailand, Vietnam, dan Indonesia yang terletak di sebelah selatan Tiongkok adalah negara-negara penghasil beras.

Makanan Tiongkok Utara pada umumnya terbuat dari olahan gandum.

Namun, meskipun begitu, berkat perkembangan teknologi dan transportasi, masyarakat Tiongkok Utara pun tetap bisa menikmati aneka makanan berbahan dasar beras, demikian pula sebaliknya.

Berdasarkan pengalamanku selama ini, tempat kuliner favoritku adalah:

Guangzhou

Bagiku pribadi, Guangzhou adalah surga kuliner nomor satu di Tiongkok. Selain cita rasa makanan yang cocok di lidah orang Indonesia pada umumnya, makanan yang dijual di depot, restoran, dan lapak makanan di pinggir jalan di Guangzhou rasanya sangat enak dan dijual dengan harga terjangkau.

Tak hanya itu saja. Aneka kedai kopi yang menggugah selera dan tempatnya yang sangat instagrammable membuat siapa saja yang datang sangat betah berlama-lama di tempat ini, entah itu untuk berfoto atau menyesap nikmatnya kopi.

Perlu diketahui bahwa generasi awal etnis Tionghoa di Indonesia adalah perantauan dari Provinsi Fujian dan Guangdong. Maka, tak heran jika cita rasa kuliner Guangdong dan Fujian lebih familier di lidah orang Indonesia. Sebagian besar rasa makanan Tionghoa di Indonesia pun berasal dari kedua provinsi ini.

Hong Kong

Setali tiga uang dengan Guangzhou, Hong Kong juga merupakan salah satu kota rujukan kuliner favoritku. Karena Hong Kong dulunya adalah bekas koloni Inggris, aneka kuliner khas Barat pun juga ada di sini. Tidak hanya makanan Barat, tapi juga makanan khas Timur Tengah, seperti kebab. Aku juga menemukan kuliner khas India di sini. Sedangkan kuliner khas Indonesia lebih banyak dijumpai di wilayah Causeway Bay, karena di tempat inilah yang sering dijadikan tempat kopdar para buruh migran di Hong Kong setiap akhir pekan.

Kamu bisa menikmati aneka rasa kuliner dari restoran-restoran Hong Kong yang terkenal di Indonesia, misalnya saja Din Tai Fung, yang mana xiaolongbao adalah menu andalannya.

Namun, harga kuliner di Hong Kong sedikit lebih mahal daripada di Tiongkok daratan, termasuk jika dibandingkan dengan Shenzhen, kota yang merupakan pintu masuk ke Tiongkok daratan. Hal ini hanya karena nilai tukar dolar Hong Kong yang lebih mahal daripada Yuan.

Fuzhou

Salah satu kuliner terkenal asal Fuzhou adalah肉丸 rouwan. Bentuknya bulat seperti bakso, terbuat dari daging dan sangat enak. Namun, sayang sekali, menurutku, harga makanan di Fuzhou lebih mahal daripada di Guangzhou atau Shenzhen.

Di Fuzhou ada sebuah tempat terkenal yang menyajikan aneka makanan khas Provinsi Fujian, namanya 三坊七巷 san fang qi xiang. Tempat ini buka pada malam hari dan sangat ramai pengunjung, terutama saat akhir pekan.

Selain rouwan, makanan laut juga sangat terkenal di Fuzhou, karena letak Fuzhou sendiri di pinggir pantai. Selain itu, kuliner khas Fujian yang enak juga bisa ditemui di Xiamen (Amoy). Makanan ikan lautnya sangat menggugah selera dan harganya juga terjangkau. Jika kamu merupakan penggemar seafood, kamu wajib datang ke Xiamen!

Shanghai

Sebagai pusat perekonomian Tiongkok, Shanghai juga menyajikan aneka kuliner yang bervariasi dan memanjakan lidah. Salah satunya adalah hairy crab, yaitu kepiting berambut yang berukuran jumbo. Kamu tidak akan bisa menghabiskan menu ini sendirian, karena kepitingnya sendiri berukuran raksasa dan biasanya disajikan dalam porsi besar.

Hairy crab. Menu ini sangat mudah ditemukan di Shanghai.

Selain itu, dimsum Shanghai juga sangat terkenal. Beberapa lapak makanan di Shanghai menjual dimsum dengan sajian yang kreatif. Bentuknya berupa aneka hewan, sehingga siapa saja yang kebetulan lewat dan melihatnya pasti ingin membelinya, terutama para cewek. Ada dimsum yang dibentuk seperti wajah babi, anjing husky, bebek, atau aneka hewan dan bentuk lain.

Dimsum dengan beragam bentuk yang lucu, sangat mudah ditemukan di Shanghai. Jadi, mau tetap dimakan, nggak, nih, kalau bentuknya selucu ini?

Makanan Barat seperti spagheti, salad, dan pizza juga mudah ditemukan di Shanghai, karena banyak ekspatriat yang bekerja di Shanghai.

Beijing

Tak dipungkiri lagi, Beijing yang merupakan ibukota Tiongkok juga salah satu tempat jujukan kuliner favoritku. Yang terkenal bagi orang Indonesia tentu saja bebek Peking! Banyak tempat yang menjual bebek Peking, bahkan kamu bisa membelinya beberapa porsi sebagai oleh-oleh untuk keluarga, teman, atau dimakan sendiri. Tempat yang paling banyak menjual bebek Peking adalah kawasan Wangfujing.

Bebek Peking yang dijual dalam bentuk kemasan ini juga sudah dilengkapi dengan bumbunya, sehingga pembeli cukup menggorengnya saja. Praktis dan instan. Jangan khawatir, kamu masih tetap bisa menikmatinya saat kamu pulang ke Indonesia.

Karena Beijing terletak di utara, kamu mungkin akan jarang menemukan menu makanan berbahan dasar beras. Termasuk di restoran internasional seperti KFC dan McD. Namun, kamu tidak perlu khawatir, menu makanan yang berbahan dasar gandum di Beijing juga cukup enak, kok. Harganya terjangkau, bahkan lebih murah dari harga makanan di Indonesia. Bahkan, satu porsi makanan bisa untuk dimakan berdua.

Bagaimana? Apakah kamu berencana pergi ke Tiongkok untuk menikmati kulinernya setelah membaca artikel ini (dan setelah pandemi usai, pastinya)?

Apakah Google Translator Merupakan Ancaman Bagi Industri Penerjemahan?

Sejak mesin penerjemah Google Translator dirilis untuk publik pada tahun 2008, banyak pihak yang mulai meragukan, apakah mesin penerjemah ini akan menggantikan penerjemah manusia, mengingat semakin hari fungsinya semakin sempurna? Tak sedikit pula orang yang menakut-nakuti bahwa profesi penerjemah akan hilang dari peradaban. Ditambah lagi, mesin penerjemah lainnya, seperti Microsoft Bing Translator, Baidu Translator, dan Yandex juga bermunculan. Hal ini sempat membuat resah para penerjemah pada awalnya, terlebih para penerjemah yang hanya menggantungkan pendapatan mereka dari menerjemahkan. Namun, pada kenyataannya, sejak tahun 2008 hingga detik ini, tahun 2020, banyak agensi penerjemahan yang masih beroperasi dan jasa penerjemah makin dibutuhkan. Tentu banyak orang yang bertanya-tanya, mengapa bisa demikian? Mengapa meski sudah ada Google Translator, jasa penerjemah masih saja tetap laku? Adapun beberapa alasannya adalah:

Teks dari bahasa sumber dibuat oleh manusia

Harus kita akui bahwa hingga hari ini teks dari bahasa sumber dibuat oleh manusia. Manusialah yang memikirkan dan menuliskan atau mengetikkannya. Selama teks sumber dibuat oleh manusia, selama itu pulalah jasa penerjemah manusia akan dibutuhkan. Kecuali jika suatu saat nanti, entah abad ke berapa di masa depan, teks dari bahasa sumber dibuat oleh mesin, pada saat itulah jasa penerjemah manusia tidak diperlukan lagi. Pendapat ini juga diperkuat oleh Mbak Hetih Rusli, salah satu editor senior dan penerjemah di penerbit Gramedia Pustaka Utama, saat aku menghadiri sesi webinarnya. Manusia yang menciptakan mesin penerjemah, tentu mesin penerjemah itu tidak akan lebih hebat daripada penciptanya. Sama seperti Tuhan yang menciptakan manusia, manusia tidak akan lebih hebat daripada sang pencipta. Justru para penerjemah diuntungkan dengan adanya mesin penerjemah karena mereka bisa menghemat waktu menerjemahkan dan menjadi lebih produktif.

Salah satu mesin penerjemah yang sering digunakan oleh orang awam, Google Translator. Sumber: Google Translator.

Mesin penerjemah hanya bisa menerjemahkan per kata

Tujuan diciptakannya mesin penerjemah salah satunya adalah menggantikan fungsi kamus fisik. Sehingga kita tidak perlu lagi membolak-balik kamus untuk mencari arti suatu kata. Namun, perlu diketahui bahwa mesin penerjemah hanya bisa menerjemahkan per kata. Ia tidak bisa menerjemahkan frasa, peribahasa, idiom, atau kata-kata (terminologi) khusus dalam bidang yang lebih spesifik, misalnya saja bidang hukum, perminyakan, teknik, medis, dll. Misalnya saja, kita menemukan suatu episode film berjudul Dawn of Destiny. Penerjemah yang tidak peka bahasa akan langsung menerjemahkannya mentah-mentah menjadi Fajar Takdir dalam bahasa Indonesia. Padahal arti sebenarnya adalah Permulaan Takdir, karena fajar bisa dianggap sebagai permulaan hari atau waktu.

Oleh sebab itu, pengalaman, pengetahuan, dan kecakapan penerjemah tetap diperlukan, sehingga tidak menggantungkan diri pada hasil terjemahan mesin penerjemah yang seringkali hasilnya tidak akurat. Karena hingga saat ini, aku sering menjumpai orang yang bersikukuh dan meremehkan bahwa menjadi penerjemah itu mudah dan tidak perlu repot karena cukup hanya bermodalkan Google Translator saja, kemudian hasil terjemahannya diedit dan tidak perlu keahlian bahasa. Tentu saja ini adalah persepsi yang salah besar. Jika memang mesin penerjemah bisa menerjemahkan sehebat penerjemah manusia, untuk apa agensi atau klien bersedia mengeluarkan budget besar untuk membayar jasa penerjemah?

Hasil terjemahan mesin penerjemah tidak bisa seluwes penerjemah manusia

Apakah kamu pernah menerjemahkan novel dari bahasa asing ke bahasa Indonesia menggunakan mesin penerjemah? Apakah kamu bisa memahami maknanya atau justru makin bingung dan pusing ketika membacanya? Inilah yang dimaksud bahwa mesin tidak mempunyai emosi seperti manusia, sama halnya dengan robot. Pembaca maupun editor pasti bisa langsung mengetahui apakah suatu teks diterjemahkan dengan mesin penerjemah ataukah penerjemah manusia. Itulah sebabnya penerjemah manusia masih diperlukan. Selain itu, menerjemahkan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, karena lingkup pekerjaannya sendiri cukup kompleks.

Aku sangat menyarankan jika kamu benar-benar serius ingin terjun ke dalam dunia penerjemahan, perbanyaklah koneksi dengan para penerjemah senior untuk belajar dan menambah ilmu serta pengalaman dari mereka dan mengikuti kelas-kelas pelatihan maupun webinar penerjemahan. Dengan menjadi penerjemah, kamu akan tahu dan merasakan sendiri pahit manisnya profesi ini.

Menerjemahkan itu butuh belajar dan ada landasan teorinya

Ini adalah banyak hal yang tidak diketahui orang-orang. Penerjemahan itu adalah suatu bidang ilmu dan tidak bisa dipelajari secara instan. Jika klien mengembalikan hasil terjemahanmu dan mengatakan bahwa terjemahanmu buruk, sedangkan kamu sudah sangat yakin bahwa kualitas hasil terjemahanmu sudah sangat baik, maka kamu harus bisa memaparkan pendapatmu dengan landasan teori yang mendukung argumenmu. Apakah itu metode penerjemahan semantis, adaptatif, komunikatif, atau yang lainnya? Kamu tidak bisa berpendapat hanya dengan, “Menurut saya bla bla bla,”, “Saya rasa bla bla bla,”, karena itu terlalu subjektif. Terlebih lagi jika kamu berkata, “Menurut hasil Google Translator yang saya dapatkan, bla bla bla,” karena itu justru akan  menunjukkan bahwa kamu tidak profesional dan tidak kompeten. Jika demikian, cepat atau lambat, kamu akan dijauhi klien.

Penerjemah seringkali harus menerjemahkan dokumen rahasia

Google Translator dan mesin penerjemah lainnya adalah sumber terbuka (open source). Maksudnya adalah fasilitas ini bisa digunakan oleh siapa saja dan dari mana saja. Selain itu, mesin penerjemah dilengkapi dengan AI (artificial intelligence) dan sampai hari ini fungsinya masih terus disempurnakan. Oleh karena itu, para penggunanya bisa memberikan umpan balik untuk hasil terjemahan yang dirasa kurang tepat. Sebaliknya, para penerjemah seringkali mendapatkan orderan untuk menerjemahkan dokumen yang sifatnya rahasia, sesuai dengan bidang yang dikuasainya, sehingga ia harus menerjemahkan secara manual dan tidak boleh menggunakan bantuan mesin penerjemah.

Mengapa demikian? Dunia maya adalah dunia yang tidak aman. Siapa saja bisa melacak aktivitas kita, meski kamu sudah menggunakan VPN. Termasuk jika kamu menggunakan Google Translator. Kamu tidak akan pernah tahu frasa dan kata kunci apa saja yang sensitif dan rahasia dalam dokumen kita. Jika kamu mengetikkan teks sumber tersebut di Google Translator, maka otomatis kata atau frasa tersebut akan terekam dalam database Google Translator dan ini akan sangat berbahaya. Meski kamu sebagai penerjemah sudah menandatangani NDA (Non Disclosure Agreement) atau surat perjanjian rahasia yang menyatakan bahwa kamu tidak akan memberitahukan kepada pihak ketiga mengenai proyek yang kita kerjakan, tapi dengan menggunakan Google Translator, ini sama saja kamu sudah melanggar perjanjian kontrak yang disepakati dan kamu tanda tangani sendiri. Tentu saja kredibilitas sebagai penerjemah akan tercoreng, terlebih jika akhirnya teks dokumen terjemahan tersebut bocor (dan kejadian ini pernah terjadi). Akibatnya, penerjemah dapat dikenakan hukuman pidana atau perdata (atau bahkan keduanya) yang nilainya bisa mencapai miliaran rupiah, tergantung dari isi kontrak perjanjian antara penerjemah dan agensi atau klien.

Itulah sebabnya penerjemah tetap harus bisa menerjemahkan secara manual dan menguasai kedua bahasa dengan sangat baik. Itu pula sebabnya banyak agensi penerjemahan yang memiliki server mereka sendiri. Setiap kali penerjemah mengerjakan proyek, penerjemah harus masuk ke sistem server agensi dan mengerjakannya di sana. Hal ini dilakukan agensi untuk menjamin kerahasiaan isi materi dokumen terjemahan.

Demikian pula halnya jika penerjemah mengerjakan tes terjemahan. Meskipun tidak terikat NDA, tapi biasanya pihak agensi sudah memperingatkan untuk tidak menyebarkan isi tes terjemahan tersebut kepada orang lain atau ke forum-forum dan grup-grup di internet (termasuk grup di Facebook) untuk didiskusikan dengan penerjemah lainnya. Hal ini dilakukan agensi agar semua penerjemah punya hak dan kesempatan yang sama untuk bisa bergabung dalam tim dan proyek mereka.

Banyak rekan penerjemah senior yang masih meyakini dan mengamini bahwa profesi ini masih tetap akan ada di masa mendatang, kecuali jika mesin penerjemah bisa menggantikan peran dan fungsi penerjemah manusia sepenuhnya.

Kapankah Mengajarkan Bahasa Asing ke Anak?

Setiap kali aku pergi ke mal, aku sering melihat anak zaman sekarang begitu lancar berbahasa Inggris. Sebaliknya, mereka justru tidak bisa berbahasa Indonesia. Bahkan, saat bicara dengan orang lain pun, orang tuanya yang membantu atau mewakili mereka menjawab. Kalau ada yang bertanya, “Anaknya bisa ngomong bahasa Indonesia, nggak, Bu?” Sang orangtua hanya tersenyum tipis sambil menjawab, “Bisa, kok.”

Menguasai bahasa asing tentu tidak salah, karena di era globalisasi seperti sekarang memang diwajibkan menguasai keahlian bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Namun, bagaimana jika ternyata bahasa asing justru lebih dominan dikuasai sang anak dari bahasa daerah atau bahasa Indonesia?

Anak-anak zaman sekarang, terutama yang hidup dan tinggal di kota besar, memang orang Indonesia, lahir dan besar di Indonesia, tapi justru tidak bisa berbahasa Indonesia. Sungguh ironis. Artikel ini aku tulis bukan dengan tujuan untuk menyinggung atau menggurui pihak tertentu. Inilah kenyataan yang sebenarnya. Bagaimana jika suatu saat anak-anak kita sudah dewasa, tapi identitasnya sebagai bangsa Indonesia kian pudar? Di saat yang sama, banyak orang asing yang ingin dan tertarik untuk belajar bahasa Indonesia. Sedangkan kita, sebagai warga negara Indonesia, justru tidak menguasai bahasa Indonesia. Aneh, bukan?

Aku memang bukan dokter anak atau ahli tumbuh kembang anak, tapi dari pengalamanku berkonsultasi dengan dokter tumbuh kembang anak telah membuatku menyadari betapa pentingnya bahasa ibu bagi anak.

Saat usia 2 tahun, putriku didiagnosis dokter tumbuh kembang anak mengalami keterlambatan bicara. Di usianya ketika itu, ia lebih banyak diam, pasif, hanya menggumamkan kata-kata yang tidak jelas. Menurut dokter, anak seusianya paling tidak sudah bisa mengucapkan kata-kata sederhana dengan pelafalan yang jelas.

“Anaknya pasti diajarkan bahasa lain selain bahasa Indonesia, ya?” tanya sang dokter sambil memandangku curiga. Aku mengiyakan dan ia membalas, “Untung anak Anda tidak parah, jadi tidak perlu terapi. Ajarkan dulu bahasa Indonesia, nanti kalau bahasa ibunya sudah mantap, barulah ajarkan bahasa asing. Setidaknya setelah usianya di atas lima tahun. Jangan diajarkan bahasa asing kalau usianya masih balita. Nanti dia bingung.”

Setelah aku mempraktikkan ucapan sang dokter dan selalu bicara dengan putriku dengan bahasa Indonesia. Benar saja, hanya dalam waktu beberapa bulan, putriku sudah mengoceh seperti burung berkicau. Andai saja aku terlambat berkonsultasi dengan dokter, mungkin aku harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya terapi putriku. Aku tidak menghiraukan sindiran dari orang-orang di sekitarku, mengapa aku yang berprofesi sebagai penerjemah bahasa Mandarin justru tidak mengajarkan bahasa Mandarin kepada anakku sendiri.

Zhuyin Fuhao, cara baca bahasa Mandarin sistem traditional Chinese. Sumber: Learn Mandarin.

Bukannya aku tidak ingin mengajari, melainkan aku lebih percaya apa yang dikatakan dokter. Aku juga tidak memaksakan putriku harus menjadi sepertiku saat ia dewasa nanti. Karena ia sejak kecil suka mewarnai dan menggambar, maka di saat senggang pun ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan menggambar dan mewarnai.

Mungkin karena putriku setiap harinya melihat papanya ini selalu berkomunikasi dalam bahasa Mandarin dengan klien, membaca buku-buku Mandarin, bahkan selalu mendengarkan siaran radio dalam bahasa Mandarin pula, lama-lama ia pun akhirnya penasaran. Di usianya yang sekarang 7 tahun, suatu ketika ia berkata bahwa ia juga ingin belajar bahasa Mandarin.

Karena ia menunjukkan minat yang besar, maka aku pun mengajarinya. Kulihat dia begitu cepat memahami apa yang kuajarkan. Aku mengajarkan kepadanya dasar-dasar bahasa Mandarin, kata-kata sederhana yang biasa diucapkan setiap harinya, dan setiap hari kuberikan PR menulis. Aku memang sengaja tidak memberikan banyak PR karena aku tahu tugas yang diberikan gurunya sudah cukup membuatnya lelah dan bosan, apalagi di masa pandemi seperti saat ini.

Sebagai orang tua, aku hanya memberikan bekal yang terbaik demi masa depannya. Namun, setidaknya, karena ia lahir dan besar di Indonesia, ia pun harus bisa berbahasa Indonesia.

Tips Menghindari Penipuan Bagi Penerjemah

Beberapa hari lalu, grup penerjemah dihebohkan oleh kabar dari seorang penerjemah senior yang mengatakan bahwa ia hampir saja tertipu oleh penawaran kerja sama penerjemahan yang dilakukan oleh agensi dari luar negeri.

Di masa-masa pandemi seperti saat ini, yang mana banyak negara mulai berjatuhan ke jurang resesi, mengakibatkan banyak orang mulai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan penghasilan. Apalagi jika kita mendapatkan proyek terjemahan dari luar negeri. Singkat cerita, rekan penerjemah senior ini suatu ketika mendapat surel dari salah satu project manager yang menawarkan proyek penerjemahan dan meminta rekan saya mengirimkan CV. Rekan penerjemah ini pun tanpa ragu mengirimkan CV sesuai yang diminta dan mengerjakan tes terjemahan.

Keanehan pun terjadi setelah itu. Project manager kembali mengirimkan surel kepadanya dan mengatakan bahwa rekan saya ini lulus tes dan diminta untuk menandatangani surat kontrak, padahal sebelumnya belum ada negosiasi harga. Karena alasan keamanan, project manager tersebut meminta rekan saya untuk menandatangani surat perjanjian kerahasiaan dan meminta alamatnya, karena dokumen proyek akan dikirimkan melalui jasa kurir. Rekan tersebut langsung curiga, karena proyek penerjemahan sepenting dan serahasia apa pun hingga detik ini tidak pernah ada yang dikirimkan melalui jasa kurir. Risiko hilang selama dalam perjalanan terlalu besar.

Benar saja. Salah satu rekan penerjemah yang lain menimpali, bahwa beberapa tahun lalu ia juga mengalami kejadian serupa. Bahkan, ia diinformasikan harus membayar biaya bea cukai sebesar Rp 20 juta atas pengiriman tersebut. Pihak agensi menolak membayarkan dan meminta rekan saya membayar lebih dulu dan mengirimkan tagihan kepadanya, barulah kemudian biayanya akan ditransfer bersamaan dengan komisinya. Beruntung, teman saya tidak percaya begitu saja. Ia langsung menolaknya dengan alasan tidak punya uang dan kejadian tersebut berhenti sampai di situ.

Hati-hati penipuan. Sumber: Irish Times.

Nah, kita pasti tak ingin kejadian serupa menimpa diri kita. Untuk menghindari kasus penipuan seperti ini, berikut tips yang bisa diterapkan:

Selalu cek kredensial agensi dan project manager yang menawarkan proyek

Jika kita mendapatkan tawaran kerja sama dari agensi dari luar negeri, jangan tergiur dulu. Memang akan sangat menjanjikan bagi kita jika kita mendapatkan proyek dari agensi luar negeri. Luangkan waktu lebih dulu untuk memeriksa keaslian agensi tersebut. Cek di situsnya, cek juga di Google, apakah agensi tersebut memang ada ataukah hanya abal-abal. Cek pula alamat lengkapnya di Google Map dan nama project manager tersebut. Jangan buru-buru mengambil keputusan. Seringkali si penipu meminta kita untuk segera menandatangani draf kontrak tanpa memberi kita kesempatan untuk bertanya. Cek juga alamat surel yang digunakan. Jika project manager tersebut menggunakan alamat surel gratisan seperti Yahoo atau Gmail, maka 99,99% adalah penipu. Agensi yang baik dan memiliki reputasi bagus tidak akan pernah menggunakan alamat surel gratisan. Hal ini juga berlaku untuk agensi dalam negeri, kecuali kita sudah mengenal baik project manager yang menawarkan kita proyek.

Pelajari draf kontrak kerja dan surat perjanjian kerahasiaan

Sebelum menandatangani draf kontrak kerja dan surat perjanjian kerahasiaan, pastikan dulu kita sudah membaca baik-baik isinya. Jangan malu bertanya jika ada yang tidak dimengerti. Selama dalam batas wajar, project manager tentu tidak akan sewot. Sebaliknya, ia pasti akan dengan senang hati menjelaskan kepada kita. Jika kita sudah menandatangani draf kontrak kerja dan surat perjanjian kerahasiaan, maka isi perjanjian itulah yang berlaku. Tanyakan juga sistem pembayarannya, jangka waktu pengerjaan, perangkat lunak yang akan digunakan, dll. Namun, meski kita punya hak untuk bertanya, ada pula etika profesi yang mana kita justru tidak boleh bertanya. Misalnya, jika kita menerjemahkan proyek komersial seperti novel, film, dan komik, kita tidak boleh bertanya di platform mana proyek tersebut akan ditayangkan, kecuali project manager memberitahukannya sendiri kepada kita. Jika project manager terkesan emosi pada setiap pertanyaan yang kita lontarkan, justru itu tandanya kita harus waspada bahwa ini adalah penipuan.

Cek dan ricek kepada rekan penerjemah lainnya

Inilah salah satu manfaat para sesama penerjemah saring berjejaring. Kita bisa bertanya pengalaman rekan penerjemah yang lain dan meminta pendapat jika kita ragu atau mendapat tawaran proyek yang mencurigakan. Kita bisa menanyakan kinerja agensi A, klien B, dst. Dengan begitu, kita bisa terhindar dari penipuan yang dilakukan agensi abal-abal. Meski tidak semua agensi penerjemahan (entah dalam atau luar negeri) itu buruk, tapi akan lebih baik jika kita selalu bersikap waspada dan meminimalkan tingkat risiko kita. Yang pasti, kita harus selalu waspada karena pelaku kriminal juga makin canggih mengelabui calon korbannya.

Hong Kong, Wilayah Tiongkok yang Sering Dikira Negara

Meskipun Hong Kong sudah kembali ke pangkuan Tiongkok pada 1 Juli 1997 dan prosesi penyerahannya diumumkan di media internasional, tapi hingga detik ini aku masih sering mendengar orang Indonesia masih sering menyebut Hong Kong sebagai sebuah negara, bukan bagian dari Tiongkok.

Selain karena pengaruh Inggris yang cukup lama menguasai Hong Kong sejak Tiongkok kalah pada Perang Opium, yang menyebabkan Tiongkok harus menyewakan Hong Kong kepada Inggris, faktor lain yang menyebabkan Hong Kong sering dikira sebagai sebuah negara adalah Hong Kong hingga saat ini masih menggunakan mata uang HKD alias Dolar Hong Kong. Jika dikurskan dalam rupiah untuk 1 HKD adalah senilai Rp1.950,-. Sehingga, tak heran jika Hong Kong masih sering dianggap sebagai negara yang berdiri sendiri (termasuk Taiwan).

Faktor lainnya adalah faktor kepengurusan visa. Jika kita ingin pergi ke Hong Kong, kita tidak perlu mengurus visa seperti halnya Tiongkok dan negara lain. Cukup beli tiket pesawat saja dan setibanya di Hong Kong, paspor kita akan distempel oleh pihak imigrasi di Bandara Internasional Hong Kong. Tak heran jika pikiran bawah sadar kita masih menganggap Hong Kong adalah sebagai sebuah negara. Selain itu, jika dibandingkan dengan penduduk Tiongkok yang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Mandarin, penduduk Hong Kong banyak yang menggunakan bahasa Kanton. Sebenarnya, bahasa Kanton adalah dialek, sama seperti kita di Indonesia memiliki dialek Jawa, Madura, Batak, dan lain sebagainya.

Status Hong Kong sebenarnya adalah sebagai SAR (Special Autonomous Region), atau daerah istimewa. Jika di Indonesia, statusnya sama seperti Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta atau DKI Jakarta. Hanya saja, Hong Kong diberikan wewenang untuk mengelola wilayahnya sendiri. Oleh sebab itu, Hong Kong masih menggunakan mata uang HKD dan bendera dengan corak bunga bauhinia, tapi di samping bendera Hong Kong, pasti ada bendera Tiongkok.

Salah satu sudut Hong Kong saat senja yang cantik di kawasan Sai Kung. Foto adalah dokumentasi pribadi penulis.

Mungkin kamu bertanya-tanya, setelah Hong Kong kembali ke Tiongkok, mengapa Hong Kong tidak langsung saja menggunakan mata uang Yuan dan mengubah sistem pemerintahannya menjadi sama seperti Tiongkok? Jawabannya adalah: tidak semudah itu. Hong Kong sudah 99 tahun lamanya di bawah koloni Inggris, tentu tidak semudah dan secepat itu mengikuti sistem Tiongkok daratan. Ekonomi Hong Kong bisa ambruk seketika. Oleh karena itu, dibutuhkan proses migrasi dan proses ini butuh waktu 50 tahun lamanya (yaitu tahun 2047). Maka dari itu, pemerintah Tiongkok menerapkan sistem satu negara dua sistem untuk Hong Kong. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada tahun 2047 nanti, apakah Hong Kong akan menggunakan mata uang Yuan dalam seluruh transaksinya ataukah tetap menggunakan HKD.

Di dunia internasional, semua negara mengakui bahwa hanya ada satu Tiongkok (one China policy), yaitu Tiongkok daratan, yang beribukota di Beijing (selengkapnya, silakan baca di https://en.wikipedia.org/wiki/One-China_policy#:~:text=The%20%22One%2DChina%20policy%22,official%20names%20incorporate%20%22China%22.). Sedangkan Taiwan, yang dikenal sebagai Republik Tiongkok, dan juga Macau dan Hong Kong, adalah bagian dari Tiongkok. Hal ini tidaklah aneh, mengingat saat ini pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga sangat pesat, sehingga mampu memberikan pengaruh di mata dunia. Selain itu, Tiongkok adalah salah satu anggota tetap DK PBB.

Di banyak forum diskusi internasional, aku sering melihat betapa geramnya warganet asal Tiongkok saat mendapati pernyataan dari warganet asal negara lain, yang masih menganggap, bahkan menginginkan Hong Kong, Macau, dan Taiwan memerdekakan diri dari Tiongkok. Kita sendiri sebagai WNI, pasti tidak akan terima dan protes jika ada orang asing yang menyatakan bahwa Papua atau Aceh adalah negara merdeka, karena secara tidak langsung mereka berusaha memecah belah kita.

Meski kita tetap berpegang teguh pada pendirian kita bahwa Hong Kong adalah negara (termasuk Taiwan dan Macau), tapi kenyataannya PBB pun mengakui bahwa wilayah yang dijuluki sebagai Mutiara dari Timur ini adalah bagian dari Tiongkok. Maka dari itu, kurasa lebih bijak jika kita langsung mengatakan Hong Kong, dan bukan negara Hong Kong.

Tips Banjir Job

Kadang aku mendapat curcol dari rekan sesama penerjemah, mengapa mereka sepi proyek. Hasil terjemahan sudah benar, tidak ada komplain dari agensi atau klien, tapi seolah proyek terjemahan enggan menyapa mereka. Setelah satu proyek selesai, banyak di antara mereka harus bersusah payah mencari proyek berikutnya.

Aku tidak menyalahkan kondisi pandemi seperti saat ini. Memang kuakui kalau saat pandemi seperti ini, hampir semua bidang terkena imbasnya, baik langsung atau tidak langsung. Namun, saat pandemi berakhir, tips dariku ini bisa kamu terapkan, siapa tahu kamu langsung kebanjiran job hingga kewalahan (Amin!), hahaha. Lagipula, siapa sih yang nggak senang kalau dapat repeat order? Simak tipsnya di bawah ini.

Senangnya kalau banjir order. Sumber: 123rf.com

Masukkan CV ke banyak agensi penerjemahan.

Jadi, sumber penghasilan kita tidak hanya dari satu agensi. Jika agensi A sedang tidak ada proyek, kita masih bisa berpeluang mendapat proyek dari agensi B, dst. Apalagi kalau kinerja kita bagus, agensi pasti akan pakai jasa kita lagi. Hal yang sama juga berlaku untuk klien langsung. Sebelum mengirimkan CV, ada baiknya kalau kita mengetahui lebih dulu informasi mengenai calon agensi yang kita tuju atau calon klien. Jika kita diajak berkolaborasi dengan rekan penerjemah atau agensi lain, selama bayarannya sepadan dan tugasnya sesuai dengan kemampuan dan keahlian kita, mengapa kita harus menolaknya?

Harus Pandai Mengatur Keuangan

Biasanya komisi yang diberikan agensi akan ditransfer 60 hari terhitung setelah proyek selesai dan terjemahan kita sudah disetujui oleh tim QA (quality assurance). Jika komisi kita dibayarkan melalui Paypal, kita masih harus menunggu dua hari lagi agar komisi tersebut cair ke rekening kita. Oleh karena itu, kita harus bijak menggunakan uang kita. Sediakan juga dana darurat.

Jalin hubungan yang baik dengan para project manager, HRD, resource manager dan rekan penerjemah lain.

Setiap hari raya Imlek, festival bakcang, Mooncake Festival, atau festival khas Tionghoa lainnya, aku selalu rajin mengirimkan kartu ucapan elektronik atau bahkan surel biasa untuk memberikan ucapan kepada para project manager dan resource manager, baik yang memberikan proyek kepadaku maupun yang belum. Tujuannya adalah menjalin hubungan jangka panjang. Jadi, kita tidak hanya baik kepada mereka hanya kalau ada proyek saja dan kalau tidak ada proyek kita menghilang. Sesekali kita boleh japri mereka menanyakan kabar, tapi jangan mengungkit masalah pekerjaan. Oh, ya. Kartu ucapan elektronik atau surel ucapannya lebih baik dikirim satu per satu. Memang melelahkan dan terkesan membuang waktu, tapi mereka akan jauh lebih respek terhadap kita nantinya. Kita juga perlu menjalin hubungan baik dengan rekan sesama penerjemah karena siapa tahu rezeki kita berasal dari mereka, semisal diajak berkolaborasi. Jalinlah pertemanan dengan tulus, jangan hanya mendekati mereka untuk tujuan tertentu (misal hanya ingin mendapatkan informasi dari mana mereka dapat jobnya, kemudian menghilang setelah direferensikan. Kita sendiri tentu tidak ingin diperlakukan seperti itu, bukan?).

Utamakan proyek jangka panjang atau proyek kecil tapi rutin.

Dengan demikian, kondisi dompet kita aman. Aku pernah mengerjakan terjemahan untuk proyek di bidang ekonomi digital dari tahun 2011–2013. Proyeknya dikerjakan dengan tenggat waktu mingguan dan volume jumlah katanya tiap minggunya memang tidak begitu besar dan aku masih bisa mengerjakan yang lain, tapi aku senang karena setidaknya selama 2 tahun kontrak aku punya pendapatan pasti. Tinggal diakumulasikan saja, sedikit-sedikit lama-lama jadi gunung (bukan bukit lagi, hehehe). Aku juga pernah mengerjakan proyek terjemahan novel selama 6 bulan dari salah satu penerbit di Indonesia dan aku selalu mengutamakan untuk mengerjakan proyek tersebut lebih dulu, disusul yang lainnya.

Menerjemahkan tidak hanya melulu mengerjakan terjemahan dokumen.

Kita juga bisa mencoba mengerjakan subtitle atau transcribber. Sama seperti poin pertama, supaya kalau terjemahan dokumen sepi, kita masih punya peluang bisa mendapat proyek dari subtitle atau transcribber. Saling melengkapi, kan?

Jika agensi menawarkan posisi lain untuk kita, seperti editor atau QA, terima saja. 

Itu artinya agensi percaya dengan kemampuan kita. Terkadang orang lain justru lebih bisa melihat bakat dan kemampuan kita dibandingkan diri kita sendiri. Asalkan bayarannya sepadan dengan beban pekerjaannya tentu tidak masalah. Selain menerjemahkan, aku juga menjadi Indonesian language lead, yang tugasnya memeriksa kualitas terjemahan. Pekerjaan ini juga ditawarkan oleh agensi kepadaku, lho.

Jangan banting harga.

Seringkali hanya demi memenangkan proyek atau mendapat tekanan dari klien, penerjemah sering banting harga. Bahkan, aku juga sempat miris saat melihat ada seorang penerjemah yang menawarkan jasa terjemahan sebesar Rp 50,- per kata. Aku hanya bisa mengelus dada, karena belajar bahasa dan menerjemahkan itu butuh waktu yang lama. Akibatnya, jika beralasan jika tidak banting harga tidak bisa mendapatkan klien, penerjemah bisa jadi mengerjakan terjemahannya tidak tulus dan berat hati. Kondisi psikologis ini pasti mempengaruhi hasil terjemahan. Akibatnya, kita yang kena komplain dari agensi atau klien karena kualitas terjemahan buruk. Ada harga, ada barang. Mau minta bagus, jangan minta murah. Kalau kita banting harga, nanti lama-lama kita pasti punya pikiran kalau jadi penerjemah itu madesu dan penghasilannya tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup, padahal kesalahan ada pada diri kita sendiri. Selain itu, kalau kita banting harga, agensi juga bisa menilai kualitas kita juga yah begitulah, tidak sesuai ekspetasi. Niat banting harga demi mendapat proyek, justru kita yang diabaikan agensi atau klien. Kalau bukan kita yang menghargai diri kita sendiri, bagaimana kita bisa menuntut orang lain menghargai kita?

Itulah tips-tips yang bisa kubagikan dalam artikel kali ini. Tips-tips ini juga bisa diterapkan bagi kamu yang bekerja di bidang lain.


Semoga bermanfaat.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Penerjemah

Yippie! Kita sudah lulus tes terjemahan, nih! Pasti senang, dong, karena sebentar lagi akan ada proyek yang menunggu untuk kita kerjakan. Apalagi di masa-masa pandemi seperti sekarang, mendapatkan proyek terjemahan sekecil apa pun itu adalah seperti oase di tengah gurun pasir yang luas.

Tapi, eits, jangan keburu senang dulu kalau sudah lulus tes terjemahan. Sebelum melangkah lebih jauh, ada hal-hal yang harus kita perhatikan:

Surat Kontrak Kerja

Setelah lulus tes terjemahan, biasanya HRD yang merekrut kita akan membicarakan kesepakatan kerja dan mengirimkan draf surat kontrak kerja. Kita harus baca baik-baik isi surat kontrak kerja ini, seperti misalnya tarif penerjemahan yang sudah disepakati kedua belah pihak, lama kerja, perangkat lunak yang akan digunakan, job desc, dll. Kita juga akan diminta melengkapi persyaratan administrasi. Contohnya saja scan identitas, melampirkan foto, mengisi biodata diri, dan lainnya. Pastikan kita sudah memahami sebelum menandatanganinya dan jangan ragu-ragu untuk bertanya jika ada yang tidak kita mengerti. Lebih baik ribet di depan daripada baku hantam di belakang. Namun, ada beberapa agensi penerjemahan di Indonesia yang masih merupakan rintisan (startup), sehingga mereka tidak menerbitkan kontrak kerja dan lebih berlandaskan kepercayaan. Namun, meskipun begitu, demi kebaikan dan kenyamanan kedua belah pihak, lebih baik surat kontrak kerja dan NDA (Non Disclosure Agreement–yang akan kubicarakan di poin berikutnya) tetap ada.

Surat Perjanjian Kerahasiaan (Non Disclosure Agreement)

Surat perjanjian kerahasiaan atau istilah kerennya NDA adalah surat yang mengatur hal-hal yang tidak boleh kita sebar luaskan kepada pihak ketiga. Banyak dokumen terjemahan yang sifatnya sensitif dan rahasia, terutama dokumen hukum dan medis. Tak jarang pula dokumen tersebut mengandung hak cipta atau kekayaan intelektual. Bahkan, terkadang dalam CV pun kita tidak boleh mencantumkan nama proyek. Kita juga tidak diizinkan walau hanya sekadar berbagi di Instastory. Jika kita melanggarnya, hukumannya bisa saja berupa hukuman pidana, dan/atau perdata, tergantung isi perjanjian kontrak. Kalau sudah begini, bukankah ini sama saja menghancurkan karier kita sendiri?

Mengklaim Hasil Terjemahan Sebagai Karyamu

Karena dokumen terjemahan mengandung hak cipta dan/atau hak intelektual, maka hak tersebut ada pada pembuatnya atau klien. Maka, kita dilarang keras mengumumkan hasil karya terjemahan kita ke ranah publik di internet, seperti misalnya ke akun medsosmu, forum, atau ke blogmu, kecuali kesepakatan tersebut tidak tertulis dalam NDA atau kita sudah mendapat izin dari project manager atau klien untuk mengumumkan karya terjemahanmu di medsosmu setelah terjemahan itu resmi dirilis. Meski tujuan kita sebenarnya hanya mengumumkan kepada khalayak bahwa ini hasil terjemahan kita atau dengan tujuan mempromosikannya, tapi tindakan kita tersebut tetap saja dianggap sebagai pelanggaran, jika tidak ada izin. Bagaimanapun juga, surat kontrak kerja dan NDA punya kekuatan hukum setelah kedua belah pihak sepakat dan menandatanganinya. Jika kita tidak yakin, jangan sungkan bertanya. Malu bertanya sesat di jalan.

Menanyakan Kepada Rekan Penerjemah Bagaimana Mendapatkan Suatu Proyek

Ini adalah big no, dalam dunia apa pun. Bagaimana perasaan kita jika kita adalah seorang pemilik restoran kemudian ada seorang tak dikenal datang kepada kita dan menanyakan apa rahasia agar restoran kita selalu laris, atau minta diajarkan caranya agar bisa membuat menu andalan restoran tersebut. Sekarang adalah zaman era teknologi informasi dan internet. Manfaatkan teknologi sebaik-baiknya untuk mencari pekerjaan dan mempermudah hidup kita. Kalaupun kita ingin tahu caranya, ada baiknya belajar kepada penerjemah senior saat mereka membuka kelas penerjemahan, baik yang berbayar atau yang gratis. Aku yakin beliau pasti bersedia membagikan ilmunya. Karena ilmu dan pengalaman itu mahal. Jangan lupa juga untuk berjejaring dan menjalin hubungan baik dengan rekan sesama penerjemah untuk mendapatkan saran dan berbagi pengalaman.

Menanyakan Kepada Agensi Mengenai Identitas Klien dari Proyek yang Kita Terjemahkan

Banyak teman penerjemah yang mengerjakan terjemahan komersial seperti novel, video gim, dan komik. Mereka sangat penasaran di platform mana karya ini akan dirilis. Kemudian mereka tak sungkan bertanya kepada project manager. Ingatlah bahwa sekalipun kita boleh dan punya hak bertanya, ada batasan-batasan tertentu yang tidak boleh kita langgar dan harus kita pegang sebagai bagian dari etika profesi, sekaligus privasi. Menanyakan identitas klien kepada agensi sama saja seperti kita bekerja sebagai agen properti, kemudian seorang tamu datang dan tanpa rasa malu bertanya kepada kita, siapa pemilik rumah tersebut, karena tamu tersebut ingin menemuinya langsung. Bagaimana perasaan kita? Tentu kita jadi hilang respek malas meladeninya, bukan? Ini sangat tidak sopan dan melanggar etika. Kalaupun project manager memberitahukan kepada kita klien dari proyek tersebut, kita tetap tidak diizinkan untuk menghubungi klien tanpa sepengetahuan pihak agensi.

Demikianlah hal-hal yang harus diketahui penerjemah, khususnya mereka yang baru saja memasuki industri penerjemahan. Menjadi penerjemah memang tidak seluwes penulis. Batasan-batasan yang diberikan kepada penerjemah memang terlihat lebih kaku dan tegas, tapi jika kita bisa menempatkan dan membiasakan diri, lambat laun kita pasti akan hafal dengan sendirinya mana yang boleh dan yang tidak boleh kita lakukan.

Voice Over, Tidak Hanya Sekadar Ngoceh di Depan Mikrofon

Nomor telepon yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.

Perhatian, perhatian. Pesawat Cathay Pacific dengan nomor penerbangan CX780 tujuan Hong Kong akan segera berangkat pada pukul 08.20. Para penumpang diharapkan segera naik ke pesawat melalui pintu nomor enam.

Pintu teater satu telah dibuka. Para penonton yang telah memiliki karcis, dipersilakan untuk segera masuk ke ruangan teater karena pertunjukan film segera dimulai.

Apakah kamu pernah mendengar kalimat di atas? Pernahkah kamu bertanya-tanya, suara siapakah itu?

Tentu saja suara itu dihasilkan oleh para voice over talent. Mereka adalah orang-orang yang mengisi narasi untuk iklan, pengumuman di tempat umum, audio book, sandiwara radio, dan lain-lain. Sedangkan para talent yang menyulih suarakan film dari bahasa asing, gim atau film anak-anak disebut dubber atau pengisi suara. Para voice over talent ini bisa menyulih suarakan untuk produk iklan ataupun karakter, tergantung karakter suara mereka atau permintaan klien.

Selain menjadi penulis, penerjemah, juru bahasa, penyanyi kaver, aku juga menjadi voice over talent. Ketika masih menimba ilmu di Beijing, Tiongkok, aku mengambil kursus broadcasting. Aku cukup tahu diri aku tidak punya wajah yang tampan, oleh karena itu aku memilih untuk mengambil kursus ini, hahaha … lagipula, aku juga tidak pede berakting di depan kamera dan aku lebih suka bekerja dari balik layar. Mungkin itu sebabnya kursus broadcasting lebih sepi peminat daripada kursus akting. Hingga saat ini, aku menangani proyek voice over untuk Tiongkok dan Indonesia, baik itu iklan radio, televisi, narasi CV perusahaan, atau karakter di film-film independen.

Meskipun pekerjaannya kelihatan sepele, hanya bercuap-cuap saja di depan mikrofon, ada persyaratan dasar yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang ingin terjun di industri ini, di antaranya:

Suara harus enak didengar

Aturan ini juga berlaku untuk orang-orang yang bekerja sebagai penyanyi kaver, juru bahasa, telemarketing, dan penyiar radio. Alasannya karena orang-orang yang menjadi target kita hanya bisa mendengar suara kita. Jika suaranya serak, para pendengar akan kehilangan minatnya. Oleh sebab itu, suara menjadi aset yang penting. Para voice over talent harus menjaga kualitas suara mereka dengan menjaga pola makan (tidak makan es krim, gorengan, makan makanan pedas, dll) dan diusahakan untuk tidak sering berteriak.

Punya artikulasi yang jelas

Biasanya para voice over talent dan penyulih suara akan diberikan tes membaca naskah yang cukup memelintir lidah dalam durasi waktu tertentu. Seperti misalnya:

She sells seashells on the seashore.

Saya suka sama situ soalnya situ suka senyum-senyum sendiri sama saya sampai saya sebal.

Kata-kata ini harus diucapkan dengan jelas dan lancar, sesuai dengan waktu yang diberikan. Karena bukan tidak mungkin saat kita belum selesai membaca naskah, waktu sudah habis. Oleh karena itu, kita juga harus memperhatikan waktunya. Selain itu, voice over talent tidak boleh orang yang cadel (tidak bisa mengucapkan huruf R).

Intonasi dan emosi

Karena target kita tidak bisa melihat raut wajah kita, maka intonasi suara juga harus diperhatikan. Para talent harus menguasai dan menjiwai naskah dengan baik. Misalkan saja saat kita memerankan karakter, suara kita juga harus mewakili karakter tersebut. Saat karakter tersebut marah, suara kita juga harus terdengar seperti orang yang benar-benar marah. Demikian pula dengan menangis, tertawa, sedih, kecewa, dan lain sebagainya. Dengan demikian, saat penonton nantinya menonton film yang kita dubbing, meski film tersebut film asing, penonton tetap bisa merasakan seolah menonton film Indonesia.

Kekuatan suara dan kecepatan membaca

Para talent juga harus mengetahui kapan naskah tersebut diucapkan dengan nada berbisik, suara keras, atau suara rendah. Saat membaca naskah pun, harus disesuaikan dengan waktunya, tidak boleh terlalu cepat atau terlalu lambat. Satu naskah singkat bisa memerlukan take berjam-jam, lho, dan itu seringkali sangat melelahkan. Dibutuhkan latihan secara rutin untuk bisa menguasainya.

Mikrofon untuk voice over. Kredit: Ibn Sina.

Oke, saya berminat menjadi voice over talent. Bagaimana caranya?

Pertama-tama, kamu bisa mencoba mendengar suaramu sendiri. Caranya mudah. Ambil saja buku cerita atau artikel apa saja. Ambil ponselmu dan rekamlah suaramu yang sedang membaca. Tidak perlu semuanya, dua paragraf saja sudah cukup. Lakukan ini berulang kali. Lalu, perdengarkan kepada teman terdekatmu untuk minta pendapat.

Yang kedua, kamu bisa belajar teknik-teknik bagaimana cara menjadi dubber dan voice over talent yang baik. Ingatlah bahwa mempelajari suatu keahlian itu tidak bisa instan, kamu butuh proses untuk menikmati hasilnya. Berjejaringlah dengan rekan-rekan sesama dubber dan voice over talent, karena terkadang kamu bisa diajak kolaborasi dengan mereka. Bagaimanapun juga, suara tiap orang itu unik dan tidak ada yang sama. Jika ingin belajar, aku sangat menyarankan untuk belajar kepada mentornya di akun Instagram dubberandwriter dan indovoiceover. Di kelas tersebut, kamu akan belajar dasar-dasar menjadi voice over talent hingga mahir. Selalu konsultasikan kendalamu dengan mentor dan tetap rajin latihan untuk meningkatkan kualitas.

Salam voice over!

Mengenal Berbagai Macam Profesi dalam Dunia Kepenulisan

Banyak sekali orang yang berkata kepadaku bahwa mereka ingin menerbitkan buku agar bisa dikenal sebagai penulis. Sebenarnya, dunia kepenulisan tidak sesempit yang kita bayangkan, lho. Beberapa dekade yang lalu, mungkin profesi penulis selalu identik dengan penulis buku, entah itu buku fiksi atau non fiksi, sehingga ada anggapan kalau tidak punya karya dalam bentuk buku, belum bisa dikatakan sebagai penulis.

Namun, seiring dengan berkembangnya zaman dan teknologi, profesi sebagai penulis juga berkembang. Bahkan, beberapa di antaranya sanggup mendatangkan pundi-pundi yang tidak sedikit, bahkan sukses melambungkan para pelakunya. Apa saja itu? Yuk, kita simak sama-sama:

Blogger

Banyak penulis yang memiliki blog pribadi sebagai sarana untuk mempromosikan karya, mengadakan kelas kepenulisan, atau hanya sekadar membagikan pengalaman dan pengetahuannya. Ada juga yang awalnya hanya iseng, menuliskan pengalaman, hobi atau keahliannya (seperti memasak, jalan-jalan, dll), kemudian artikel-artikel di blognya menjadi viral dan akhirnya diterbitkan menjadi buku. Beberapa di antaranya adalah Trinity yang memiliki blog The Naked Traveler, atau Sekar Arum dengan tutorial kecantikannya di http://racunwarnawarni.com. Bahkan, dengan menjadi blogger, kamu juga bisa ikut lomba menulis artikel berhadiah, menjadi reviewer produk tertentu (buku, film, kuliner, dll), atau bahkan menjadi influencer dengan artikel-artikel yang kamu tulis.

Penulis Skenario

Kamu suka dunia film? Kamu bisa mencoba menjadi penulis skenario. Pasti bangga, dong, kalau kita punya karya yang bisa dinikmati oleh banyak orang dan nama kita tercantum dalam credit title. Kamu bisa menjadi penulis skenario untuk FTV atau film bioskop. Cerita romansa remaja dan horror yang memacu adrenalin dan membuat penasaran adalah dua genre yang saat ini sedang digemari oleh para penonton dan ratingnya cukup bagus. Kalau kamu mau belajar menulis skenario, kamu bisa pertimbangkan untuk ikut serta dalam kelas kepenulisan skenario yang dibimbing oleh Ernest Prakarsa, yang terkenal dengan film Cek Toko Sebelah. Bonusnya, jika kamu menjadi penulis skenario, kamu bisa punya kesempatan mengenal lebih dekat bintang film atau sutradara favoritmu, lho.

Content Writer dan Jurnalis

Seiring dengan menjamurnya portal berita di internet seperti Tirto, Mojok, IDN Times, yang harus mengunggah konten baru untuk dimuat, profesi ini bisa kamu pertimbangkan. Kalau kamu punya keahlian menulis yang bagus, terutama bisa membuat artikel yang clickbait, atau menarik perhatian pembaca untuk mengekliknya, kamu bisa menjadi content writer. Uniknya, pekerjaan ini juga bisa kamu lakukan dari rumah, berbekal koneksi internet yang mumpuni, laptop, dan listrik, tentunya. Profesi jurnalis juga dibutuhkan agar bisa menyampaikan berita-berita dan informasi terkini, seperti breaking news dan hotline news. Sekarang adalah era internet, yang mana informasi terbaru bisa kita dapatkan hanya dalam hitungan jam atau bahkan menit. Selain itu, aku yakin situs-situs berita di atas juga berlomba-lomba agar informasi atau berita terkini miliknya bisa menduduki urutan pertama di laman pencarian Google.

Copywriter

Pernahkah kamu berselancar di internet atau di platform marketplace dan mendadak ingin membeli suatu benda yang sebenarnya kamu tidak membutuhkannya, tapi kamu akhirnya membelinya karena terpancing dengan deskripsi barang atau iklan berupa tulisan di produk yang dijual tersebut? Di sinilah tugas seorang copywriter, yaitu ‘menghipnotis’ calon pembeli dengan kata-kata sakti yang mengundang rasa penasaran calon pembeli dan merangsang pembaca untuk segera mengambil keputusan membeli. Misalnya saja, “Produk ini tidak dijual di toko lain,”, “Beli dua gratis satu,”, “Pembelian senilai minimal Rp XX akan mendapatkan gratis YY.”, “Gratis ongkir untuk minimal pembelian Rp ZZ.” Bahkan, slogan untuk iklan produk tertentu seperti, “Apa pun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro,”, “Indomie Seleraku,” juga membutuhkan copywriter. Kalau kamu unik, kreatif, dan punya banyak ide cemerlang untuk merangkai kata, kamu juga bisa menjadi copywriter.

Penerjemah

Jika kamu punya keahlian menulis dan bahasa Indonesia yang oke punya sekaligus keahlian bahasa asing yang mumpuni, kamu juga bisa menjadi penerjemah. Mulai dari menerjemahkan dokumen, buku, katalog, website, beragam aplikasi di Android maupun iOS, film, dll. Selain itu, penerjemah juga harus bisa mengoperasikan berbagai perangkat lunak penerjemahan seperti Trados, MemoQ, Memsource, dll. Bidang pekerjaan penerjemah juga beragam, mulai dari sastra, ekonomi, hukum, kedokteran, farmasi, dll.

Editor

Eits, jangan remehkan profesi editor, lho. Meski pekerjaan mereka terkesan remeh dan di balik layar, merekalah yang berjasa memeriksa kualitas tulisan yang dibuat para penulis. Mulai dari tata bahasa, ejaan, hingga logika kalimat, sekaligus memberikan saran agar tulisan tersebut masuk akal dan bisa diterima pembaca. Jika kamu orang yang teliti dan punya cara berpikir yang kritis, dan kemampuan bahasa Indonesia di atas rata-rata, kamu juga bisa menjadi editor. Dalam dunia perbukuan, editorlah yang menjadi bidan atas lahirnya sebuah buku, karena tanpa mereka, tulisan para penulis pasti terdapat banyak kekurangan.

Nah, itulah aneka macam profesi di dunia kepenulisan. Ternyata banyak juga, ya. Jika kita mampu beradaptasi dengan zaman dan perkembangan teknologi, pekerjaan apa pun yang dulunya tidak ada atau bahkan mungkin tidak bisa menghasilkan uang, mungkin saja bisa ada dan menciptakan profesi baru di era teknologi ini.