Mengenal Berbagai Macam Profesi dalam Dunia Kepenulisan

Banyak sekali orang yang berkata kepadaku bahwa mereka ingin menerbitkan buku agar bisa dikenal sebagai penulis. Sebenarnya, dunia kepenulisan tidak sesempit yang kita bayangkan, lho. Beberapa dekade yang lalu, mungkin profesi penulis selalu identik dengan penulis buku, entah itu buku fiksi atau non fiksi, sehingga ada anggapan kalau tidak punya karya dalam bentuk buku, belum bisa dikatakan sebagai penulis.

Namun, seiring dengan berkembangnya zaman dan teknologi, profesi sebagai penulis juga berkembang. Bahkan, beberapa di antaranya sanggup mendatangkan pundi-pundi yang tidak sedikit, bahkan sukses melambungkan para pelakunya. Apa saja itu? Yuk, kita simak sama-sama:

Blogger

Banyak penulis yang memiliki blog pribadi sebagai sarana untuk mempromosikan karya, mengadakan kelas kepenulisan, atau hanya sekadar membagikan pengalaman dan pengetahuannya. Ada juga yang awalnya hanya iseng, menuliskan pengalaman, hobi atau keahliannya (seperti memasak, jalan-jalan, dll), kemudian artikel-artikel di blognya menjadi viral dan akhirnya diterbitkan menjadi buku. Beberapa di antaranya adalah Trinity yang memiliki blog The Naked Traveler, atau Sekar Arum dengan tutorial kecantikannya di http://racunwarnawarni.com. Bahkan, dengan menjadi blogger, kamu juga bisa ikut lomba menulis artikel berhadiah, menjadi reviewer produk tertentu (buku, film, kuliner, dll), atau bahkan menjadi influencer dengan artikel-artikel yang kamu tulis.

Penulis Skenario

Kamu suka dunia film? Kamu bisa mencoba menjadi penulis skenario. Pasti bangga, dong, kalau kita punya karya yang bisa dinikmati oleh banyak orang dan nama kita tercantum dalam credit title. Kamu bisa menjadi penulis skenario untuk FTV atau film bioskop. Cerita romansa remaja dan horror yang memacu adrenalin dan membuat penasaran adalah dua genre yang saat ini sedang digemari oleh para penonton dan ratingnya cukup bagus. Kalau kamu mau belajar menulis skenario, kamu bisa pertimbangkan untuk ikut serta dalam kelas kepenulisan skenario yang dibimbing oleh Ernest Prakarsa, yang terkenal dengan film Cek Toko Sebelah. Bonusnya, jika kamu menjadi penulis skenario, kamu bisa punya kesempatan mengenal lebih dekat bintang film atau sutradara favoritmu, lho.

Content Writer dan Jurnalis

Seiring dengan menjamurnya portal berita di internet seperti Tirto, Mojok, IDN Times, yang harus mengunggah konten baru untuk dimuat, profesi ini bisa kamu pertimbangkan. Kalau kamu punya keahlian menulis yang bagus, terutama bisa membuat artikel yang clickbait, atau menarik perhatian pembaca untuk mengekliknya, kamu bisa menjadi content writer. Uniknya, pekerjaan ini juga bisa kamu lakukan dari rumah, berbekal koneksi internet yang mumpuni, laptop, dan listrik, tentunya. Profesi jurnalis juga dibutuhkan agar bisa menyampaikan berita-berita dan informasi terkini, seperti breaking news dan hotline news. Sekarang adalah era internet, yang mana informasi terbaru bisa kita dapatkan hanya dalam hitungan jam atau bahkan menit. Selain itu, aku yakin situs-situs berita di atas juga berlomba-lomba agar informasi atau berita terkini miliknya bisa menduduki urutan pertama di laman pencarian Google.

Copywriter

Pernahkah kamu berselancar di internet atau di platform marketplace dan mendadak ingin membeli suatu benda yang sebenarnya kamu tidak membutuhkannya, tapi kamu akhirnya membelinya karena terpancing dengan deskripsi barang atau iklan berupa tulisan di produk yang dijual tersebut? Di sinilah tugas seorang copywriter, yaitu ‘menghipnotis’ calon pembeli dengan kata-kata sakti yang mengundang rasa penasaran calon pembeli dan merangsang pembaca untuk segera mengambil keputusan membeli. Misalnya saja, “Produk ini tidak dijual di toko lain,”, “Beli dua gratis satu,”, “Pembelian senilai minimal Rp XX akan mendapatkan gratis YY.”, “Gratis ongkir untuk minimal pembelian Rp ZZ.” Bahkan, slogan untuk iklan produk tertentu seperti, “Apa pun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro,”, “Indomie Seleraku,” juga membutuhkan copywriter. Kalau kamu unik, kreatif, dan punya banyak ide cemerlang untuk merangkai kata, kamu juga bisa menjadi copywriter.

Penerjemah

Jika kamu punya keahlian menulis dan bahasa Indonesia yang oke punya sekaligus keahlian bahasa asing yang mumpuni, kamu juga bisa menjadi penerjemah. Mulai dari menerjemahkan dokumen, buku, katalog, website, beragam aplikasi di Android maupun iOS, film, dll. Selain itu, penerjemah juga harus bisa mengoperasikan berbagai perangkat lunak penerjemahan seperti Trados, MemoQ, Memsource, dll. Bidang pekerjaan penerjemah juga beragam, mulai dari sastra, ekonomi, hukum, kedokteran, farmasi, dll.

Editor

Eits, jangan remehkan profesi editor, lho. Meski pekerjaan mereka terkesan remeh dan di balik layar, merekalah yang berjasa memeriksa kualitas tulisan yang dibuat para penulis. Mulai dari tata bahasa, ejaan, hingga logika kalimat, sekaligus memberikan saran agar tulisan tersebut masuk akal dan bisa diterima pembaca. Jika kamu orang yang teliti dan punya cara berpikir yang kritis, dan kemampuan bahasa Indonesia di atas rata-rata, kamu juga bisa menjadi editor. Dalam dunia perbukuan, editorlah yang menjadi bidan atas lahirnya sebuah buku, karena tanpa mereka, tulisan para penulis pasti terdapat banyak kekurangan.

Nah, itulah aneka macam profesi di dunia kepenulisan. Ternyata banyak juga, ya. Jika kita mampu beradaptasi dengan zaman dan perkembangan teknologi, pekerjaan apa pun yang dulunya tidak ada atau bahkan mungkin tidak bisa menghasilkan uang, mungkin saja bisa ada dan menciptakan profesi baru di era teknologi ini.

Ketika Harus Jauh dari Keluarga

Pekerjaan utamaku sebagai penerjemah dan juru bahasa Mandarin seringkali membuatku harus meninggalkan keluarga untuk bekerja. Aku pergi mendampingi klien ke Tiongkok untuk konferensi, seminar, negosiasi bisnis, inspeksi, pelatihan, atau mendampingi menjadi tour leader.  Biasanya aku pergi seminggu, tapi juga pernah satu bulan.

Sebagai tipe anak rumahan, aku sebenarnya adalah pribadi yang tertutup dan tidak suka berada dalam keramaian. Butuh waktu beberapa waktu lamanya bagiku untuk beradaptasi dengan suasana. Namun, karena tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga, mau tidak mau aku harus lakukan. Rasa homesick terkadang muncul tiba-tiba. Kalau rasa itu datang, maka yang biasanya kulakukan adalah:

Menelepon keluarga.

Setelah jam kerja usai dan aku sudah tiba di hotel, biasanya aku akan menelepon keluargaku. Aku selalu menanyakan kabar mereka hari itu. Beruntung sekali saat ini kita hidup di era teknologi canggih, sehingga jarak bukanlah menjadi penghalang. Aku tidak perlu menghabiskan banyak pulsa untuk melakukan SLI demi melepas rasa rindu kepada keluarga. Cukup berbekal aplikasi WeChat dan wifi hotel, maka aku bisa menelepon keluargaku sepuas hati. Aku menggunakan WeChat karena semua aplikasi perpesanan di Tiongkok seperti Line dan Whatsapp diblokir oleh pemerintah. Bahkan terkadang kalau rasa kangen tidak tertahankan, aku akan melakukan video call. Kualitasnya pun cukup bagus. Sayangnya, WeChat menempati banyak ruang di penyimpanan internal ponsel.

Menghubungi teman lama yang tinggal di kota tersebut.

Aku beruntung dulu pernah kuliah di salah satu universitas terkemuka di Beijing dan punya beberapa teman mahasiswa lokal yang berasal dari daerah lain. Aku akan menghubungi mereka dan menanyakan apakah mereka bersedia reuni denganku di akhir pekan. Sebagai informasi, orang-orang Tiongkok sangat sibuk dengan pekerjaan mereka setiap harinya dan mereka biasanya menemui teman mereka hanya pada saat akhir pekan. Oleh sebab itu, jangan kaget kalau teman Tiongkokmu jarang sekali membalas chat kamu. Kalaupun dibalas, biasanya hanya kalimat pendek saja. Namun, kalau mereka mengajakmu bertemu di akhir pekan, itu tandanya mereka menganggapmu teman sejati. Kamu sudah bukan orang asing lagi baginya. Setelah pekerjaanku selesai di akhir pekan dan ada temanku yang akan bertemu denganku, aku akan minta izin kepada klien. Meski hanya sekadar makan atau minum sederhana selama satu jam, tapi aku senang karena bisa berbagi cerita.

Mengabadikan lewat foto.

Kata orang, foto menyimpan jutaan makna. Jika temanku kebetulan berhalangan untuk menemuiku atau aku tidak punya teman di kota tersebut, di akhir pekan setelah bekerja aku akan pergi berkeliling kota sendirian, setelah mendapatkan izin dari klien. Namun, terkadang pula klien yang justru mengajakku untuk menemaninya berbelanja atau pergi berjalan-jalan dan menikmati kota. Siapa yang menolak.

Kalau aku sendirian, biasanya tempat yang paling sering kukunjungi adalah toko buku atau perpustakaan. Pemerintah Tiongkok sangat peduli akan pendidikan. Hampir di tiap kota di Tiongkok memiliki perpustakaan umum yang bebas dikunjungi siapa saja.

Istriku paling suka dengan bunga persik dan plum. Jika aku berangkat ke Tiongkok pada saat bunga persik dan plum mekar (biasanya awal Maret hingga awal April), aku akan memotretkan banyak sekali bunga persik dan plum untuknya.

Karena aku juga menulis novel, aku butuh dokumentasi berupa foto untuk membantuku memvisualisasikan setting, atau bahkan membantuku menemukan ide cerita baru. Setiap kali aku menemukan tempat yang kurasa bagus, aku akan mengabadikannya dengan kamera ponselku. Karena begitu banyaknya tempat yang kufoto selama ini, tanpa terasa, ruang penyimpananku di Google Photo juga penuh.

Jika kamu berada jauh dari keluarga, apa yang akan kamu lakukan?

Suka Duka Menjadi Penerjemah (Bagian 2)

Setelah membicarakan mengenai hal-hal positif menjadi penerjemah, di artikel kali ini aku akan membagikan duka menjadi penerjemah. Mungkin ini juga berlaku untuk penerjemah pasangan bahasa lainnya.

Sering dianggap punya tuyul, babi ngepet, atau pesugihan, hanya karena bekerja dari rumah

Pekerjaanku sebenarnya bisa dilakukan di mana saja, asalkan ada laptop, internet, dan listrik. Namun, aku lebih suka bekerja dari rumah. Kalau ditanya, di mana aku bekerja, biasanya aku menjawab kalau aku bekerja di PT Djarum (baca: djaga rumah), karena aku tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi atau menghabiskan waktu berjam-jam di jalan karena terjebak macet. Hal itu menimbulkan kecurigaan di antara para tetanggaku, terutama kalangan baby boomers (generasi yang lahir di tahun 1960an) dan yang tidak melek teknologi. Mereka selalu bertanya-tanya, bagaimana mungkin aku bisa punya penghasilan hanya dari rumah saja? Bagi mereka, yang namanya bekerja halal adalah bekerja kantoran atau punya toko. Keluar dari rumah, pakai seragam kantoran yang rapi, dan pulang ke rumah saat sore hari. Sehingga hal ini menimbulkan kecurigaan di antara para tetangga generasi senior, jangan-jangan aku punya tuyul, babi ngepet, atau aneka jenis pesugihan lainnya. Hahaha … apalagi istriku saat itu masih bekerja kantoran dan sering dapat selentingan dari tetangga generasi senior yang selalu bilang, “Suamimu malas banget, sih. Suruh dia kerja, dong, kok jadi suami nggak bertanggung jawab sama keluarga, justru kamu yang kerja.” Hahaha … istriku hanya diam dan tersenyum menghadapi mereka, karena meski dia menjelaskan hingga mulut berbusa, mereka tidak akan mengerti. Namun, setelah pemerintah Indonesia mengeluarkan anjuran untuk bekerja di rumah selama masa pandemi coronavirus, mereka pun akhirnya paham bahwa ada beberapa jenis pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah, salah satunya penerjemah.

Ilustrasi tuyul. Sumber: Solo Pos.

Sering Berkejaran dengan Tenggat Waktu

Menjadi penerjemah lepas waktu harus mampu memanajemen waktu dengan baik. Kapan waktu untuk bekerja, kapan waktu untuk beristirahat dan untuk keluarga. Terkadang, proyek yang ditawarkan kepadaku punya batas waktu yang singkat. Jika ada proyek lain atau aku tidak sanggup mengerjakannya, aku tidak segan menolaknya. Mungkin kamu pernah tahu beberapa tahun lalu ada seorang content writer yang harus tutup usia di usianya yang masih muda karena kelelahan bekerja nonstop selama 48 jam. Aku tidak ingin mengorbankan kesehatanku, karena aku adalah tulang punggung keluarga. Bagiku, bekerja dan beristirahat atau melakukan pekerjaan lainnya, termasuk waktu untuk keluarga harus berimbang. Mungkin kelihatannya sepele, tapi menjadi penerjemah tak jarang harus lembur, karena klien mereka berada di zona waktu yang berbeda jauh. Hal ini biasanya dialami oleh penerjemah pasangan bahasa Inggris-Indonesia, yang mana sang penerjemah tinggal di Indonesia, sedangkan sang klien berada di belahan dunia yang lain.

Sering Diremehkan Karena Dianggap Sudah Ada Google Translator, Maka Tidak Perlu Lagi Jasa Penerjemah

“Sekarang kan sudah ada Google Translator, jadi buat apa menggunakan jasamu mahal-mahal?”

“Mendingan kamu kerja lainnya saja, deh. Penerjemah nggak ada masa depan. Sekarang kan sudah ada Google Translator. Lama kelamaan profesimu sudah nggak dibutuhkan lagi.”

Kami, para penerjemah pasangan bahasa apa pun, sering mendapatkan sindiran seperti ini. Namun, sebenarnya Google Translator hanyalah alat bantu saja. Ia hanya bisa menerjemahkan kata per kata, tapi tidak bisa menerjemahkan frasa, kalimat bertingkat, peribahasa, ungkapan, dan masih banyak lagi. Itu sebabnya, untuk menjadi penerjemah harus menguasai kedua bahasa secara mendalam, bukan hanya mengandalkan aplikasi penerjemah. Bahkan, salah satu penerjemah senior berkata bahwa selama manusia masih menghasilkan karya tulis, selama itu pula penerjemah masih dibutuhkan.

Suka Duka Menjadi Penerjemah (Bagian 1)

Artikel kali ini kuambil dari salah satu jawaban populerku di Quora Indonesia mengenai suka dan duka menjadi penerjemah.

Aku mengawali karierku sebagai seorang juru bahasa untuk pasangan bahasa Mandarin-Indonesia pada tahun 2011, bukan penerjemah. Aku sering mendampingi para pelaku bisnis di Indonesia, khususnya yang memiliki hubungan bisnis dengan Tiongkok dalam seminar, konferensi, rapat, pameran, atau kunjungan kerja, baik di Indonesia maupun di Tiongkok. Nantinya, aku juga akan menuliskan suka duka menjadi juru bahasa.

Sebelum terjun menjadi juru bahasa, aku adalah seorang penulis. Aku menulis beberapa novel yang sudah diterbitkan, juga beberapa buku kumpulan cerita dan cerita pendek. Aku menulis novel dan cerpen di sela-sela kesibukanku sebagai seorang wiraswasta. Namun, sebenarnya aku sudah melakukan hal itu sejak saat aku masih duduk di bangku sekolah. Aku bersyukur ketika duduk di bangku SMP, guru Bahasa Indonesiaku adalah orang yang super galak dan disiplin. Semua tugas yang dikerjakan harus ditulis rapi sesuai ejaan bahasa Indonesia yang benar beserta tanda bacanya, bisa dimengerti, dan tidak boleh ada singkatan yang tidak perlu (singkatan seperti KTP, SIM, masih diperbolehkan). Jika tidak ditulis dengan rapi, maka tidak akan dinilai dan itu benar adanya.

Aku memilih ekstrakurikuler jurnalistik karena hanya ekskul inilah yang tidak membutuhkan ketangkasan fisik. Lagi-lagi, beliau adalah pembimbing eskul ini. Dari beliaulah aku ditempa selama tiga tahun dan mendapatkan keterampilan menulis.

Karena aku juga mempunyai keterampilan menulis sekaligus kemampuan berbahasa Mandarin yang aku dapatkan dari pengajaran orang tua sejak kecil, ditambah dua tahun studi pasca sarjana di UIBE Beijing di jurusan Perdagangan Internasional, modal itulah yang membuatku juga terjun ke dunia penerjemahan.

Sumber: Pinterest.

Menjadi penerjemah tentu ada suka maupun dukanya. Adapun sukanya adalah:

Bisa bekerja dari rumah

Yang kubutuhkan hanyalah laptop, koneksi internet, listrik, dan seperangkat kamus untuk menunjang pekerjaanku. Tidak hanya di rumah saja. Aku bisa mengerjakannya di tempat lain. Bahkan, terkadang aku bosan dan pergi ke gerai Starbucks terdekat untuk menyelesaikan pekerjaanku. Suasana yang berbeda terkadang membawa mood yang berbeda. Jika aku bekerja di rumah, aku tidak perlu mengenakan pakaian formal. Seringkali aku bekerja dengan hanya menggunakan kaus dan celana pendek. Beda halnya jika aku harus melakukan video conference dengan klien. Setidaknya, aku harus rapi di hadapan kamera laptop. Bahkan, dengan bekerja di rumah, aku tidak perlu keluar uang untuk biaya transportasi. Aku juga tidak perlu melawan derasnya hujan, teriknya matahari, serta menentang arus macet di perjalanan selama jam masuk dan pulang kantor. Cukup beberapa langkah saja dari kamar tidurku ke ruang kerjaku yang nyaman. Apalagi sekarang di saat pandemi virus corona, bagiku sama sekali tak ada bedanya. Dari dulu hingga detik ini, saat aku menjadi penerjemah, ya kerjanya di rumah saja.

Banyak yang menganggapku genius

Di kota tempat domisiliku, tidak banyak generasi muda yang bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Mandarin dengan baik, lancar, dan benar. Yang paling sering adalah mereka hanya bisa bahasa Mandarin lisan, tapi buta huruf. Ada pula yang bisa bahasa Mandarin lisan, tapi banyak pengucapan maupun nada yang keliru. Karena bahasa dan budaya Tionghoa telah absen di Indonesia selama 32 tahun, tak heran kalau generasi muda Indonesia dari etnis Tionghoa tak banyak yang menguasai bahasa Mandarin, kecuali mengikuti kursus bahasa Mandarin, kuliah di Sastra Tionghoa, atau langsung belajar ke Tiongkok. Orang tuaku sendiri mengajarkan bahasa Mandarin kepadaku dan kakak-kakakku sejak kecil dengan tujuan melestarikan budaya nenek moyang. Maka, jika ada generasi muda di kotaku yang menguasai bahasa Mandarin dengan sangat baik, terlebih bisa menjadi guru bahasa Mandarin di sekolah internasional ataupun menjadi penerjemah dan/atau juru bahasa, tak heran kalau banyak yang menganggapnya genius dan akan memberikan standing applause. Belajar bahasa Mandarin memang membutuhkan waktu sedikit lebih lama daripada bahasa Inggris karena harus menghafalkan ribuan huruf dan lima nada. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran lebih jika ingin belajar bahasa Mandarin. Biasanya, seseorang baru menguasai kemampuan bahasa Mandarin dasar selama 1,5 hingga 2 tahun, tergantung seberapa keras dia belajar. Selain itu, faktor bakat dan guru juga menjadi salah satu penentunya.

Mendapatkan penghasilan yang layak

Orang yang menggeluti profesi sebagai penerjemah di Indonesia memang tidak banyak, karena sebagian besar tidak menganggapnya profesi yang keren seperti dokter, insinyur, atau CEO. Ditambah lagi dengan kehadiran mesin penerjemah, salah satunya Google Translator, menjadikan profesi ini semakin diremehkan. Padahal, Google Translator hanyalah alat bantu bagi para penerjemah supaya bisa mengerjakan proyek terjemahan mereka dengan lebih cepat, karena tidak perlu lagi membuka kamus fisik, kecuali jika harus mencari istilah tertentu yang hanya ada di dalam kamus. Itu pun penerjemah tidak boleh menggantungkan sepenuhnya kepada Google Translator, karena hasil terjemahan mesin tentu berbeda dengan hasil terjemahan manusia. Namun, jika penerjemah mau mengembangkan diri, belajar terus menerus, bersikap profesional, dan rajin bekerja serta berjejaring, bukan tidak mungkin profesi ini bisa diandalkan sebagai mata pencaharian utama, bahkan sangat layak untuk menghidupi keluarga. Jika tidak, tidak mungkin aku menjadi penerjemah dari tahun 2011 hingga sekarang, bukan?

[Bersambung ke bagian 2]

Kilas Balik Penulisan Naskah Novel Misteri Rumah Kosong

Kilas Balik Penulisan Naskah Novel Misteri Rumah Kosong

Misteri Rumah Kosong adalah novel horor pertamaku yang terbit di tahun 2015. Sebelumnya, aku selalu menulis novel romansa. Novel ini diterbitkan oleh Media Pressindo dan penjualannya cukup memuaskan. Tahun 2019 lalu novel ini dicetak ulang dan bagi kamu yang belum punya, kamu bisa mendapatkannya di seluruh toko buku di Indonesia, baik toko buku daring maupun luring. Jangan sekali-kali membeli buku bajakan, meski itu gratis, karena pembajakan buku adalah tindakan melanggar hukum!

Adapun latar belakang aku menulis novel horor ini sangat unik. Suatu ketika, di tahun 2014, aku merasa sangat jenuh dan ingin mencoba menulis genre lain di luar genre romansa. Kebetulan saat itu aku sempat mengobrol dengan kedua editorku, Mas Gari dan Mbak Fatimah, yang saat itu masih bekerja di Media Pressindo, salah satu penerbit mayor di Yogyakarta. Ketika itu, kedua editorku yang hebat ini menyarankan dua genre, yaitu komedi atau horor.

Aku merasa tidak pandai melucu. Kalaupun melucu, guyonanku itu akan jadi sangat garing. Jadi, aku memilih genre horor yang menurutku lebih memacu adrenalin. Sebenarnya, aku bukan tipe orang indigo dan sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia gaib. Aku pun bingung harus mulai dari mana, karena aku sama sekali tidak pernah mengalami hal-hal mistis (dan jangan pernah sampai begitu deh). Mereka berdualah yang memberiku saran dan masukan.

“Nonton film horror, Mas. Makin takut, makin bagus. Rasakan sensasinya,” kata mereka. Jadilah aku akhirnya memutar ulang beberapa film horor, baik film dalam negeri atau Hollywood. Seperti contohnya Drag Me to Hell, Annabelle, Insidious, Pengabdi Setan. Aku juga menonton reality show saat itu, seperti Masih Dunia Lain, Mister Tukul Jalan-jalan, Kisah Paranormal, yang semuanya memberikan aku banyak informasi.

Kemudian aku berpikir, kira-kira di kotaku ini, apa sih urban legend yang paling terkenal? Ternyata ada banyak juga setelah aku cari di internet dan bertanya kepada beberapa teman. Lalu pilihanku jatuh pada salah satu urban legend yang terkenal, yaitu sebuah rumah hantu di sudut kota yang sudah lama tidak dihuni karena diduga pemiliknya telah mengadakan pesugihan dengan cara haram.

Sambil melakukan riset dengan cara menonton film dan reality show itu, serta membaca novel saudara seperguruanku Embart Nugroho, Misteri Hantu Rumah Belanda, yang saat itu baru terbit, aku mulai menyusun plot, alur, karakter, dan unsur lainnya. Tak lupa, di bagian akhir novel aku memberikan twist yang menarik, atas saran Mas Gari dan itu sukses membuat pembacanya sama sekali tidak menduga akhir ceritanya.

Novel ini kuselesaikan dalam kurun waktu enam bulan serta tiga bulan tahap revisi. Aku sangat bersyukur pernah punya editor seperti Mas Gari dan Mbak Fatimah yang selalu memberikan masukan-masukan yang berharga agar novel ini menarik, bahkan bersedia repot-repot menjadi pembawa acara dalam tanya jawab daring saat itu. Tanpa mereka, mungkin novel ini tidak akan pernah terbit.

Saat novel ini terbit dan sudah nongol di toko buku, aku juga turut senang, meski ada juga yang bertanya-tanya, mengapa aku menulis novel horor? Bukankah novel horor itu justru menakuti pembaca? Nyatanya, ada kok, pembaca yang lebih suka ditakuti cerita seram. Sama seperti halnya mengapa film horor seperti Anabelle sangat ditunggu-tunggu pecinta film bioskop.

Sampul novel Misteri Rumah Kosong.

Sebenarnya, Indonesia sangat kaya dengan legenda dan mitosnya yang masih menyimpan misteri yang belum terpecahkan, sehingga ini akan menjadi bahan baku yang ampuh untuk meramu cerita horor. Apalagi tipikal pembaca Indonesia adalah tipe orang yang selalu penasaran. Rasa penasaran mereka akan hal-hal yang belum ditemukan jawabannya atau yang masih jadi teka-teki begitu besar, termasuk cerita-cerita mistis dan misteri yang masih tabu untuk dibicarakan. Tinggal kepiawaian penulisnya saja bagaimana mengolah bahan baku yang masih mentah ini menjadi enak dipandang dan enak ketika dirasakan.

Dalam pengamatanku, cerita horor pasti memenuhi beberapa unsur berikut, yaitu: balas dendam, ritual gaib, kutukan, pesugihan, pelet, guna-guna, tempat angker, dan benda antik. Seperti contohnya Light Yagami dalam film Jepang berjudul Death Note menggunakan sebuah buku harian untuk menghukum orang yang tidak disukainya. Nama dan hukuman apa yang dituliskan di buku harian itu pasti akan terjadi pada korbannya. Buku harian itulah yang menjadi benda perantara dengan makhluk tak kasat mata.

Penasaran dengan novel ini? Kamu bisa mendapatkannya di toko buku terdekat atau membeli di toko buku daring favorit kamu. Kamu bisa membaca salah satu ulasan novelku ini di https://www.evasrirahayu.com/2015/06/review-novel-misteri-rumah-kosong.html sebelum memutuskan untuk membeli.

Karena saat ini pandemi coronavirus masih belum kunjung usai, kamu juga bisa membelinya dari toko buku daring Gramedia di https://www.gramedia.com/products/misteri-rumah-kosong-2019

Buat kamu yang penakut, jangan lupa untuk berdoa dulu sebelum membaca dan JANGAN SEKALI-KALI MEMBACANYA SAAT MALAM HARI, TERUTAMA MALAM JUMAT, APALAGI MALAM JUMAT KLIWON!

Jangan tanya alasannya kenapa tidak boleh membaca novel horor saat malam Jumat. Karena … (silakan isi sendiri).

I have warned you before. If you still do it, then the risk is yours. Hehehe …

Toilet Terjorok di Dunia

Artikel berikut adalah salah satu jawaban terpopulerku di forum Quora Indonesia. Suatu saat, salah seorang teman di Quora melemparkan pertanyaan kepadaku, toilet di negara mana yang terjorok di dunia?

DISCLAIMER: Jawabanku ini bisa membuatmu auto ngakak atau ngakak hingga guling-guling nonstop, atau bahkan membuatmu tidak nyaman membacanya. Jika kamu merasa tidak nyaman, jangan lanjutkan membaca paragraf selanjutnya.

Baiklah, tanpa panjang lebar lagi, aku akan jawab sejujurnya. Jawabannya adalah … Tiongkok.

Lho, kok begitu? Bukannya di jawabanmu yang lain, toilet umum di Tiongkok sudah lebih bersih, Glenn?

Wah, Glenn ngaco, nih. Jawabannya nggak konsisten.

Jadi, saudara-saudaraku, begini ceritanya.

Waktu aku pertama kali mengemban tugas negara sebagai juru bahasa Mandarin-Indonesia dan mendampingi klien ke Tiongkok, aku juga terkaget-kaget dengan kondisi toilet di sana, meskipun di kota besar. Ada yang tanpa pintu, ada yang hanya sekat tipis, bahkan ada juga yang nggak ada sekatnya, jadi kita bisa lihat tetangga sebelah dan depan kita lagi ngapain.

Di kota-kota kecil, malah lebih ekstrem lagi. Yang paling kuingat adalah ketika aku mendampingi klien kunjungan ke pabrik supplier di Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang. Toilet umum di sana terbuka, tidak ada air, dan sangat bau. ‘Emas’ hasil produksi manusia akan dibiarkan menumpuk di kloset. Jika sudah penuh, maka penjaga toilet baru mem-flush-nya secara massal. Baunya? Jangan dibayangkan. Mau pingsan rasanya. Kalau nggak kebelet banget, aku nggak ke toilet umum di sana. Duh, beneran masih mending toilet umum di SPBU di Indonesia, deh.

Mungkin karena banyak diprotes orang asing, pemerintah Tiongkok akhirnya mencanangkan program reformasi toilet. Memang saat ini masih baru dihelat di kota-kota besar, seperti Beijing, Shanghai, dll, yang banyak dikunjungi turis asing dan ekspatriat. Sedangkan toilet umum di kota kecil sebagian besar kondisinya masih mengerikan. Sekarang banyak toilet umum di kota-kota besar di Tiongkok yang sudah lebih bersih daripada sebelumnya. Meskipun begitu, sampai sekarang aku masih parno. Aku selalu nggak pernah lupa membawa tisu basah, tisu kering, dan toilet sanitizer di tasku. Toilet sanitizer ini bisa kamu beli di apotek-apotek di Indonesia dengan harga terjangkau.

Tahun lalu, di sebuah toilet umum pria di Beijing, aku menemukan hal unik. Coba perhatikan foto yang kuambil ini, kira-kira bagaimana persepsimu?

Peringatan? Anjuran? Atau tutorial?

Terjemahan bebas bahasa Indonesia: Dorong konsermu di tempat ini.

Aku awalnya bingung menangkap maksud dari pemberitahuan ini. Butuh waktu beberapa detik lamanya baru aku ngakak. Apa hubungannya konser dan toilet? Apanya yang harus didorong? Kalau dilihat dari gambarnya, apakah airnya harus disiram ke mikrofon? Lah, mikrofonnya di mana, ya? Airnya di mana? Aku sampai bingung cari mikrofonnya waktu itu. Ini toilet nggak salah tempat, kan? Atau justru stiker peringatannya yang salah? *tutup muka malu*

Barulah aku sadar kalau orang Tiongkok saat buang air selalu tidak pada tempatnya alias muncrat ke mana-mana, baik BAK atau BAB dan itu membuat toilet kotor dan bau. Itu sebabnya dipasanglah pemberitahuan ini untuk mengedukasi mereka agar (maaf) kencingnya dan ‘emas’nya tidak berceceran dan diarahkan (didorong, atau kalau bahasa Jawanya ngeden untuk BAB, karena kalau kita sedang menunaikan panggilan alam kan tentunya kadang perut kita berbunyi dan itu yang dimaksud ‘konser’ di sini) ke tempat pembuangan yang bentuknya seperti mikrofon di foto itu.

Mungkin sama seperti di Indonesia, beberapa toilet umum dipasang poster untuk tidak jongkok di toilet duduk, tapi mungkin pemerintah Tiongkok bingung bagaimana harus mengedukasi rakyatnya untuk peduli kepada sesama dan kebersihan. Jadi kadang kita sebagai orang asing butuh waktu untuk berpikir dan mencerna pesan yang disampaikan melalui poster-poster himbauannya.

Menurutku, hal ini sangat wajar, karena Tiongkok mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir, yang membawanya sebagai calon pemimpin ekonomi dunia setelah Amerika Serikat. Sedangkan masyarakat Tiongkok mengalami masa-masa kemiskinan sebelum Tiongkok membuka diri ke dunia internasional pada tahun 1979. Boleh dikatakan mereka adalah OKB saat ini, tapi gaya hidupnya masih seperti sebelumnya.

Jika kamu berencana mengadakan perjalanan ke Tiongkok, jangan lupa untuk selalu membawa tisu bersih, tisu basah, toilet sanitizer, hand sanitizer, dan mengenakan masker ke mana saja kamu pergi. Usahakan sudah menyelesaikan panggilan alam di hotel sebelum keluar.