Kapankah Mengajarkan Bahasa Asing ke Anak?

Setiap kali aku pergi ke mal, aku sering melihat anak zaman sekarang begitu lancar berbahasa Inggris. Sebaliknya, mereka justru tidak bisa berbahasa Indonesia. Bahkan, saat bicara dengan orang lain pun, orang tuanya yang membantu atau mewakili mereka menjawab. Kalau ada yang bertanya, “Anaknya bisa ngomong bahasa Indonesia, nggak, Bu?” Sang orangtua hanya tersenyum tipis sambil menjawab, “Bisa, kok.”

Menguasai bahasa asing tentu tidak salah, karena di era globalisasi seperti sekarang memang diwajibkan menguasai keahlian bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Namun, bagaimana jika ternyata bahasa asing justru lebih dominan dikuasai sang anak dari bahasa daerah atau bahasa Indonesia?

Anak-anak zaman sekarang, terutama yang hidup dan tinggal di kota besar, memang orang Indonesia, lahir dan besar di Indonesia, tapi justru tidak bisa berbahasa Indonesia. Sungguh ironis. Artikel ini aku tulis bukan dengan tujuan untuk menyinggung atau menggurui pihak tertentu. Inilah kenyataan yang sebenarnya. Bagaimana jika suatu saat anak-anak kita sudah dewasa, tapi identitasnya sebagai bangsa Indonesia kian pudar? Di saat yang sama, banyak orang asing yang ingin dan tertarik untuk belajar bahasa Indonesia. Sedangkan kita, sebagai warga negara Indonesia, justru tidak menguasai bahasa Indonesia. Aneh, bukan?

Aku memang bukan dokter anak atau ahli tumbuh kembang anak, tapi dari pengalamanku berkonsultasi dengan dokter tumbuh kembang anak telah membuatku menyadari betapa pentingnya bahasa ibu bagi anak.

Saat usia 2 tahun, putriku didiagnosis dokter tumbuh kembang anak mengalami keterlambatan bicara. Di usianya ketika itu, ia lebih banyak diam, pasif, hanya menggumamkan kata-kata yang tidak jelas. Menurut dokter, anak seusianya paling tidak sudah bisa mengucapkan kata-kata sederhana dengan pelafalan yang jelas.

“Anaknya pasti diajarkan bahasa lain selain bahasa Indonesia, ya?” tanya sang dokter sambil memandangku curiga. Aku mengiyakan dan ia membalas, “Untung anak Anda tidak parah, jadi tidak perlu terapi. Ajarkan dulu bahasa Indonesia, nanti kalau bahasa ibunya sudah mantap, barulah ajarkan bahasa asing. Setidaknya setelah usianya di atas lima tahun. Jangan diajarkan bahasa asing kalau usianya masih balita. Nanti dia bingung.”

Setelah aku mempraktikkan ucapan sang dokter dan selalu bicara dengan putriku dengan bahasa Indonesia. Benar saja, hanya dalam waktu beberapa bulan, putriku sudah mengoceh seperti burung berkicau. Andai saja aku terlambat berkonsultasi dengan dokter, mungkin aku harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya terapi putriku. Aku tidak menghiraukan sindiran dari orang-orang di sekitarku, mengapa aku yang berprofesi sebagai penerjemah bahasa Mandarin justru tidak mengajarkan bahasa Mandarin kepada anakku sendiri.

Zhuyin Fuhao, cara baca bahasa Mandarin sistem traditional Chinese. Sumber: Learn Mandarin.

Bukannya aku tidak ingin mengajari, melainkan aku lebih percaya apa yang dikatakan dokter. Aku juga tidak memaksakan putriku harus menjadi sepertiku saat ia dewasa nanti. Karena ia sejak kecil suka mewarnai dan menggambar, maka di saat senggang pun ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan menggambar dan mewarnai.

Mungkin karena putriku setiap harinya melihat papanya ini selalu berkomunikasi dalam bahasa Mandarin dengan klien, membaca buku-buku Mandarin, bahkan selalu mendengarkan siaran radio dalam bahasa Mandarin pula, lama-lama ia pun akhirnya penasaran. Di usianya yang sekarang 7 tahun, suatu ketika ia berkata bahwa ia juga ingin belajar bahasa Mandarin.

Karena ia menunjukkan minat yang besar, maka aku pun mengajarinya. Kulihat dia begitu cepat memahami apa yang kuajarkan. Aku mengajarkan kepadanya dasar-dasar bahasa Mandarin, kata-kata sederhana yang biasa diucapkan setiap harinya, dan setiap hari kuberikan PR menulis. Aku memang sengaja tidak memberikan banyak PR karena aku tahu tugas yang diberikan gurunya sudah cukup membuatnya lelah dan bosan, apalagi di masa pandemi seperti saat ini.

Sebagai orang tua, aku hanya memberikan bekal yang terbaik demi masa depannya. Namun, setidaknya, karena ia lahir dan besar di Indonesia, ia pun harus bisa berbahasa Indonesia.