Ulasan Buku Mencari Jejak Kungfu di Indonesia

Awalnya, saya cukup terkejut dengan ketebalan buku ini yang tidak biasa. Kapan saya bisa selesai membaca buku ini? Begitulah pikir saya pada awalnya. Namun, karena saya seorang penulis yang juga gemar membaca, saya meluangkan waktu membaca selama 10-15 menit setiap harinya. Tanpa terasa, waktu berlalu dan akhirnya saya menuntaskan buku ini.

Sudah tak terhitung berapa kali saya dibuat wow oleh isi buku ini yang menurut saya cukup menarik. Banyak sekali isi buku ini yang tak tertulis dalam sejarah bangsa Indonesia, seperti misalnya para pahlawan dari suku Tionghoa yang ikut membela kemerdekaan Indonesia, tetapi namanya tidak tercantum dalam sejarah. Dari buku inilah saya juga mengetahui bahwa ternyata ada perkumpulan-perkumpulan bela diri Tionghoa di Indonesia yang selama ini mungkin hanya dibicarakan dari mulut ke mulut. Demikian pula dengan aliran-aliran bela diri yang awalnya saya hanya tahu dalam cerita fiksi maupun film seperti aliran Butong, Shaolin, ternyata juga ada di Indonesia!

Demikian pula dengan informasi tentang para pendekar wanita Tionghoa beserta perkumpulannya. Dulu saya bertanya-tanya, apakah kaum wanita juga terlibat dalam kungfu? Dan buku inilah banyak menjawab begitu banyak rahasia dan pertanyaan dalam otak saya sejak dulu.

Sebagai etnis Tionghoa, saya merasa semua kesaksian narasumber dan fakta sejarah para ahli bela diri sangat menarik untuk dikaji, bahkan diketahui oleh para generasi muda. Bahkan, garis lineage dari aliran bela diri tradisional Tionghoa pun dengan gamblang dicantumkan di sini, agar orang-orang yang tertarik untuk mempelajari ilmu bela diri tidak keliru untuk masuk di perguruan yang asli.

Buku ini juga disertai dengan foto-foto dokumentasi para tokoh bela diri, yang semakin menguatkan fakta bahwa para tokoh ini memang benar ada.

Nama-nama yang ada di dalam buku ini hampir semuanya menggunakan dialek Hokkien, karena sebagian besar etnis Tionghoa di Indonesia berasal dari suku Hokkien dan pelafalan nama Mandarin pada saat itu lebih familiar dengan dialek Hokkien.

Buku ini cocok dijadikan dokumentasi sekaligus pengetahuan bagi generasi muda, khususnya etnis Tionghoa di Indonesia, bahwa kehidupan etnis Tionghoa di masa lalu pun punya kisah tersendiri melalui bela diri. Kisah hidup mereka, fakta sejarah, maupun trivia yang tersaji di buku ini cukup menarik dan bahkan banyak di antaranya di luar dugaan saya. Halaman demi halaman sangat menarik dan entah sudah berapa kali saya dibuat cukup terkejut dengan pemaparan fakta yang ada.

Sayang sekali, buku ini sudah habis cetak. Sejauh yang saya tahu, cukup banyak yang ingin membeli buku ini. Saya harap suatu saat buku ini dicetak ulang agar calon pembaca bisa menikmati isi buku ini.

  • Nama Penulis: Tim ACE
  • Tahun Terbit: September 2016
  • Penerbit: Suara Harapan Bangsa
  • Jumlah halaman: xxx + 1637 halaman
  • Harga Buku: Rp. 1.000.000,-
  • Nomor ISBN: 9786029226836

Kilas Balik Penulisan Naskah Novel Misteri Rumah Kosong

Kilas Balik Penulisan Naskah Novel Misteri Rumah Kosong

Misteri Rumah Kosong adalah novel horor pertamaku yang terbit di tahun 2015. Sebelumnya, aku selalu menulis novel romansa. Novel ini diterbitkan oleh Media Pressindo dan penjualannya cukup memuaskan. Tahun 2019 lalu novel ini dicetak ulang dan bagi kamu yang belum punya, kamu bisa mendapatkannya di seluruh toko buku di Indonesia, baik toko buku daring maupun luring. Jangan sekali-kali membeli buku bajakan, meski itu gratis, karena pembajakan buku adalah tindakan melanggar hukum!

Adapun latar belakang aku menulis novel horor ini sangat unik. Suatu ketika, di tahun 2014, aku merasa sangat jenuh dan ingin mencoba menulis genre lain di luar genre romansa. Kebetulan saat itu aku sempat mengobrol dengan kedua editorku, Mas Gari dan Mbak Fatimah, yang saat itu masih bekerja di Media Pressindo, salah satu penerbit mayor di Yogyakarta. Ketika itu, kedua editorku yang hebat ini menyarankan dua genre, yaitu komedi atau horor.

Aku merasa tidak pandai melucu. Kalaupun melucu, guyonanku itu akan jadi sangat garing. Jadi, aku memilih genre horor yang menurutku lebih memacu adrenalin. Sebenarnya, aku bukan tipe orang indigo dan sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia gaib. Aku pun bingung harus mulai dari mana, karena aku sama sekali tidak pernah mengalami hal-hal mistis (dan jangan pernah sampai begitu deh). Mereka berdualah yang memberiku saran dan masukan.

“Nonton film horror, Mas. Makin takut, makin bagus. Rasakan sensasinya,” kata mereka. Jadilah aku akhirnya memutar ulang beberapa film horor, baik film dalam negeri atau Hollywood. Seperti contohnya Drag Me to Hell, Annabelle, Insidious, Pengabdi Setan. Aku juga menonton reality show saat itu, seperti Masih Dunia Lain, Mister Tukul Jalan-jalan, Kisah Paranormal, yang semuanya memberikan aku banyak informasi.

Kemudian aku berpikir, kira-kira di kotaku ini, apa sih urban legend yang paling terkenal? Ternyata ada banyak juga setelah aku cari di internet dan bertanya kepada beberapa teman. Lalu pilihanku jatuh pada salah satu urban legend yang terkenal, yaitu sebuah rumah hantu di sudut kota yang sudah lama tidak dihuni karena diduga pemiliknya telah mengadakan pesugihan dengan cara haram.

Sambil melakukan riset dengan cara menonton film dan reality show itu, serta membaca novel saudara seperguruanku Embart Nugroho, Misteri Hantu Rumah Belanda, yang saat itu baru terbit, aku mulai menyusun plot, alur, karakter, dan unsur lainnya. Tak lupa, di bagian akhir novel aku memberikan twist yang menarik, atas saran Mas Gari dan itu sukses membuat pembacanya sama sekali tidak menduga akhir ceritanya.

Novel ini kuselesaikan dalam kurun waktu enam bulan serta tiga bulan tahap revisi. Aku sangat bersyukur pernah punya editor seperti Mas Gari dan Mbak Fatimah yang selalu memberikan masukan-masukan yang berharga agar novel ini menarik, bahkan bersedia repot-repot menjadi pembawa acara dalam tanya jawab daring saat itu. Tanpa mereka, mungkin novel ini tidak akan pernah terbit.

Saat novel ini terbit dan sudah nongol di toko buku, aku juga turut senang, meski ada juga yang bertanya-tanya, mengapa aku menulis novel horor? Bukankah novel horor itu justru menakuti pembaca? Nyatanya, ada kok, pembaca yang lebih suka ditakuti cerita seram. Sama seperti halnya mengapa film horor seperti Anabelle sangat ditunggu-tunggu pecinta film bioskop.

Sampul novel Misteri Rumah Kosong.

Sebenarnya, Indonesia sangat kaya dengan legenda dan mitosnya yang masih menyimpan misteri yang belum terpecahkan, sehingga ini akan menjadi bahan baku yang ampuh untuk meramu cerita horor. Apalagi tipikal pembaca Indonesia adalah tipe orang yang selalu penasaran. Rasa penasaran mereka akan hal-hal yang belum ditemukan jawabannya atau yang masih jadi teka-teki begitu besar, termasuk cerita-cerita mistis dan misteri yang masih tabu untuk dibicarakan. Tinggal kepiawaian penulisnya saja bagaimana mengolah bahan baku yang masih mentah ini menjadi enak dipandang dan enak ketika dirasakan.

Dalam pengamatanku, cerita horor pasti memenuhi beberapa unsur berikut, yaitu: balas dendam, ritual gaib, kutukan, pesugihan, pelet, guna-guna, tempat angker, dan benda antik. Seperti contohnya Light Yagami dalam film Jepang berjudul Death Note menggunakan sebuah buku harian untuk menghukum orang yang tidak disukainya. Nama dan hukuman apa yang dituliskan di buku harian itu pasti akan terjadi pada korbannya. Buku harian itulah yang menjadi benda perantara dengan makhluk tak kasat mata.

Penasaran dengan novel ini? Kamu bisa mendapatkannya di toko buku terdekat atau membeli di toko buku daring favorit kamu. Kamu bisa membaca salah satu ulasan novelku ini di https://www.evasrirahayu.com/2015/06/review-novel-misteri-rumah-kosong.html sebelum memutuskan untuk membeli.

Karena saat ini pandemi coronavirus masih belum kunjung usai, kamu juga bisa membelinya dari toko buku daring Gramedia di https://www.gramedia.com/products/misteri-rumah-kosong-2019

Buat kamu yang penakut, jangan lupa untuk berdoa dulu sebelum membaca dan JANGAN SEKALI-KALI MEMBACANYA SAAT MALAM HARI, TERUTAMA MALAM JUMAT, APALAGI MALAM JUMAT KLIWON!

Jangan tanya alasannya kenapa tidak boleh membaca novel horor saat malam Jumat. Karena … (silakan isi sendiri).

I have warned you before. If you still do it, then the risk is yours. Hehehe …