Voice Over, Tidak Hanya Sekadar Ngoceh di Depan Mikrofon

Nomor telepon yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.

Perhatian, perhatian. Pesawat Cathay Pacific dengan nomor penerbangan CX780 tujuan Hong Kong akan segera berangkat pada pukul 08.20. Para penumpang diharapkan segera naik ke pesawat melalui pintu nomor enam.

Pintu teater satu telah dibuka. Para penonton yang telah memiliki karcis, dipersilakan untuk segera masuk ke ruangan teater karena pertunjukan film segera dimulai.

Apakah kamu pernah mendengar kalimat di atas? Pernahkah kamu bertanya-tanya, suara siapakah itu?

Tentu saja suara itu dihasilkan oleh para voice over talent. Mereka adalah orang-orang yang mengisi narasi untuk iklan, pengumuman di tempat umum, audio book, sandiwara radio, dan lain-lain. Sedangkan para talent yang menyulih suarakan film dari bahasa asing, gim atau film anak-anak disebut dubber atau pengisi suara. Para voice over talent ini bisa menyulih suarakan untuk produk iklan ataupun karakter, tergantung karakter suara mereka atau permintaan klien.

Selain menjadi penulis, penerjemah, juru bahasa, penyanyi kaver, aku juga menjadi voice over talent. Ketika masih menimba ilmu di Beijing, Tiongkok, aku mengambil kursus broadcasting. Aku cukup tahu diri aku tidak punya wajah yang tampan, oleh karena itu aku memilih untuk mengambil kursus ini, hahaha … lagipula, aku juga tidak pede berakting di depan kamera dan aku lebih suka bekerja dari balik layar. Mungkin itu sebabnya kursus broadcasting lebih sepi peminat daripada kursus akting. Hingga saat ini, aku menangani proyek voice over untuk Tiongkok dan Indonesia, baik itu iklan radio, televisi, narasi CV perusahaan, atau karakter di film-film independen.

Meskipun pekerjaannya kelihatan sepele, hanya bercuap-cuap saja di depan mikrofon, ada persyaratan dasar yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang ingin terjun di industri ini, di antaranya:

Suara harus enak didengar

Aturan ini juga berlaku untuk orang-orang yang bekerja sebagai penyanyi kaver, juru bahasa, telemarketing, dan penyiar radio. Alasannya karena orang-orang yang menjadi target kita hanya bisa mendengar suara kita. Jika suaranya serak, para pendengar akan kehilangan minatnya. Oleh sebab itu, suara menjadi aset yang penting. Para voice over talent harus menjaga kualitas suara mereka dengan menjaga pola makan (tidak makan es krim, gorengan, makan makanan pedas, dll) dan diusahakan untuk tidak sering berteriak.

Punya artikulasi yang jelas

Biasanya para voice over talent dan penyulih suara akan diberikan tes membaca naskah yang cukup memelintir lidah dalam durasi waktu tertentu. Seperti misalnya:

She sells seashells on the seashore.

Saya suka sama situ soalnya situ suka senyum-senyum sendiri sama saya sampai saya sebal.

Kata-kata ini harus diucapkan dengan jelas dan lancar, sesuai dengan waktu yang diberikan. Karena bukan tidak mungkin saat kita belum selesai membaca naskah, waktu sudah habis. Oleh karena itu, kita juga harus memperhatikan waktunya. Selain itu, voice over talent tidak boleh orang yang cadel (tidak bisa mengucapkan huruf R).

Intonasi dan emosi

Karena target kita tidak bisa melihat raut wajah kita, maka intonasi suara juga harus diperhatikan. Para talent harus menguasai dan menjiwai naskah dengan baik. Misalkan saja saat kita memerankan karakter, suara kita juga harus mewakili karakter tersebut. Saat karakter tersebut marah, suara kita juga harus terdengar seperti orang yang benar-benar marah. Demikian pula dengan menangis, tertawa, sedih, kecewa, dan lain sebagainya. Dengan demikian, saat penonton nantinya menonton film yang kita dubbing, meski film tersebut film asing, penonton tetap bisa merasakan seolah menonton film Indonesia.

Kekuatan suara dan kecepatan membaca

Para talent juga harus mengetahui kapan naskah tersebut diucapkan dengan nada berbisik, suara keras, atau suara rendah. Saat membaca naskah pun, harus disesuaikan dengan waktunya, tidak boleh terlalu cepat atau terlalu lambat. Satu naskah singkat bisa memerlukan take berjam-jam, lho, dan itu seringkali sangat melelahkan. Dibutuhkan latihan secara rutin untuk bisa menguasainya.

Mikrofon untuk voice over. Kredit: Ibn Sina.

Oke, saya berminat menjadi voice over talent. Bagaimana caranya?

Pertama-tama, kamu bisa mencoba mendengar suaramu sendiri. Caranya mudah. Ambil saja buku cerita atau artikel apa saja. Ambil ponselmu dan rekamlah suaramu yang sedang membaca. Tidak perlu semuanya, dua paragraf saja sudah cukup. Lakukan ini berulang kali. Lalu, perdengarkan kepada teman terdekatmu untuk minta pendapat.

Yang kedua, kamu bisa belajar teknik-teknik bagaimana cara menjadi dubber dan voice over talent yang baik. Ingatlah bahwa mempelajari suatu keahlian itu tidak bisa instan, kamu butuh proses untuk menikmati hasilnya. Berjejaringlah dengan rekan-rekan sesama dubber dan voice over talent, karena terkadang kamu bisa diajak kolaborasi dengan mereka. Bagaimanapun juga, suara tiap orang itu unik dan tidak ada yang sama. Jika ingin belajar, aku sangat menyarankan untuk belajar kepada mentornya di akun Instagram dubberandwriter dan indovoiceover. Di kelas tersebut, kamu akan belajar dasar-dasar menjadi voice over talent hingga mahir. Selalu konsultasikan kendalamu dengan mentor dan tetap rajin latihan untuk meningkatkan kualitas.

Salam voice over!