Hal-hal yang Harus Diperhatikan Penerjemah

Yippie! Kita sudah lulus tes terjemahan, nih! Pasti senang, dong, karena sebentar lagi akan ada proyek yang menunggu untuk kita kerjakan. Apalagi di masa-masa pandemi seperti sekarang, mendapatkan proyek terjemahan sekecil apa pun itu adalah seperti oase di tengah gurun pasir yang luas.

Tapi, eits, jangan keburu senang dulu kalau sudah lulus tes terjemahan. Sebelum melangkah lebih jauh, ada hal-hal yang harus kita perhatikan:

Surat Kontrak Kerja

Setelah lulus tes terjemahan, biasanya HRD yang merekrut kita akan membicarakan kesepakatan kerja dan mengirimkan draf surat kontrak kerja. Kita harus baca baik-baik isi surat kontrak kerja ini, seperti misalnya tarif penerjemahan yang sudah disepakati kedua belah pihak, lama kerja, perangkat lunak yang akan digunakan, job desc, dll. Kita juga akan diminta melengkapi persyaratan administrasi. Contohnya saja scan identitas, melampirkan foto, mengisi biodata diri, dan lainnya. Pastikan kita sudah memahami sebelum menandatanganinya dan jangan ragu-ragu untuk bertanya jika ada yang tidak kita mengerti. Lebih baik ribet di depan daripada baku hantam di belakang. Namun, ada beberapa agensi penerjemahan di Indonesia yang masih merupakan rintisan (startup), sehingga mereka tidak menerbitkan kontrak kerja dan lebih berlandaskan kepercayaan. Namun, meskipun begitu, demi kebaikan dan kenyamanan kedua belah pihak, lebih baik surat kontrak kerja dan NDA (Non Disclosure Agreement–yang akan kubicarakan di poin berikutnya) tetap ada.

Surat Perjanjian Kerahasiaan (Non Disclosure Agreement)

Surat perjanjian kerahasiaan atau istilah kerennya NDA adalah surat yang mengatur hal-hal yang tidak boleh kita sebar luaskan kepada pihak ketiga. Banyak dokumen terjemahan yang sifatnya sensitif dan rahasia, terutama dokumen hukum dan medis. Tak jarang pula dokumen tersebut mengandung hak cipta atau kekayaan intelektual. Bahkan, terkadang dalam CV pun kita tidak boleh mencantumkan nama proyek. Kita juga tidak diizinkan walau hanya sekadar berbagi di Instastory. Jika kita melanggarnya, hukumannya bisa saja berupa hukuman pidana, dan/atau perdata, tergantung isi perjanjian kontrak. Kalau sudah begini, bukankah ini sama saja menghancurkan karier kita sendiri?

Mengklaim Hasil Terjemahan Sebagai Karyamu

Karena dokumen terjemahan mengandung hak cipta dan/atau hak intelektual, maka hak tersebut ada pada pembuatnya atau klien. Maka, kita dilarang keras mengumumkan hasil karya terjemahan kita ke ranah publik di internet, seperti misalnya ke akun medsosmu, forum, atau ke blogmu, kecuali kesepakatan tersebut tidak tertulis dalam NDA atau kita sudah mendapat izin dari project manager atau klien untuk mengumumkan karya terjemahanmu di medsosmu setelah terjemahan itu resmi dirilis. Meski tujuan kita sebenarnya hanya mengumumkan kepada khalayak bahwa ini hasil terjemahan kita atau dengan tujuan mempromosikannya, tapi tindakan kita tersebut tetap saja dianggap sebagai pelanggaran, jika tidak ada izin. Bagaimanapun juga, surat kontrak kerja dan NDA punya kekuatan hukum setelah kedua belah pihak sepakat dan menandatanganinya. Jika kita tidak yakin, jangan sungkan bertanya. Malu bertanya sesat di jalan.

Menanyakan Kepada Rekan Penerjemah Bagaimana Mendapatkan Suatu Proyek

Ini adalah big no, dalam dunia apa pun. Bagaimana perasaan kita jika kita adalah seorang pemilik restoran kemudian ada seorang tak dikenal datang kepada kita dan menanyakan apa rahasia agar restoran kita selalu laris, atau minta diajarkan caranya agar bisa membuat menu andalan restoran tersebut. Sekarang adalah zaman era teknologi informasi dan internet. Manfaatkan teknologi sebaik-baiknya untuk mencari pekerjaan dan mempermudah hidup kita. Kalaupun kita ingin tahu caranya, ada baiknya belajar kepada penerjemah senior saat mereka membuka kelas penerjemahan, baik yang berbayar atau yang gratis. Aku yakin beliau pasti bersedia membagikan ilmunya. Karena ilmu dan pengalaman itu mahal. Jangan lupa juga untuk berjejaring dan menjalin hubungan baik dengan rekan sesama penerjemah untuk mendapatkan saran dan berbagi pengalaman.

Menanyakan Kepada Agensi Mengenai Identitas Klien dari Proyek yang Kita Terjemahkan

Banyak teman penerjemah yang mengerjakan terjemahan komersial seperti novel, video gim, dan komik. Mereka sangat penasaran di platform mana karya ini akan dirilis. Kemudian mereka tak sungkan bertanya kepada project manager. Ingatlah bahwa sekalipun kita boleh dan punya hak bertanya, ada batasan-batasan tertentu yang tidak boleh kita langgar dan harus kita pegang sebagai bagian dari etika profesi, sekaligus privasi. Menanyakan identitas klien kepada agensi sama saja seperti kita bekerja sebagai agen properti, kemudian seorang tamu datang dan tanpa rasa malu bertanya kepada kita, siapa pemilik rumah tersebut, karena tamu tersebut ingin menemuinya langsung. Bagaimana perasaan kita? Tentu kita jadi hilang respek malas meladeninya, bukan? Ini sangat tidak sopan dan melanggar etika. Kalaupun project manager memberitahukan kepada kita klien dari proyek tersebut, kita tetap tidak diizinkan untuk menghubungi klien tanpa sepengetahuan pihak agensi.

Demikianlah hal-hal yang harus diketahui penerjemah, khususnya mereka yang baru saja memasuki industri penerjemahan. Menjadi penerjemah memang tidak seluwes penulis. Batasan-batasan yang diberikan kepada penerjemah memang terlihat lebih kaku dan tegas, tapi jika kita bisa menempatkan dan membiasakan diri, lambat laun kita pasti akan hafal dengan sendirinya mana yang boleh dan yang tidak boleh kita lakukan.

Tinggalkan Balasan