Ketika Harus Jauh dari Keluarga

Pekerjaan utamaku sebagai penerjemah dan juru bahasa Mandarin seringkali membuatku harus meninggalkan keluarga untuk bekerja. Aku pergi mendampingi klien ke Tiongkok untuk konferensi, seminar, negosiasi bisnis, inspeksi, pelatihan, atau mendampingi menjadi tour leader.  Biasanya aku pergi seminggu, tapi juga pernah satu bulan.

Sebagai tipe anak rumahan, aku sebenarnya adalah pribadi yang tertutup dan tidak suka berada dalam keramaian. Butuh waktu beberapa waktu lamanya bagiku untuk beradaptasi dengan suasana. Namun, karena tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga, mau tidak mau aku harus lakukan. Rasa homesick terkadang muncul tiba-tiba. Kalau rasa itu datang, maka yang biasanya kulakukan adalah:

Menelepon keluarga.

Setelah jam kerja usai dan aku sudah tiba di hotel, biasanya aku akan menelepon keluargaku. Aku selalu menanyakan kabar mereka hari itu. Beruntung sekali saat ini kita hidup di era teknologi canggih, sehingga jarak bukanlah menjadi penghalang. Aku tidak perlu menghabiskan banyak pulsa untuk melakukan SLI demi melepas rasa rindu kepada keluarga. Cukup berbekal aplikasi WeChat dan wifi hotel, maka aku bisa menelepon keluargaku sepuas hati. Aku menggunakan WeChat karena semua aplikasi perpesanan di Tiongkok seperti Line dan Whatsapp diblokir oleh pemerintah. Bahkan terkadang kalau rasa kangen tidak tertahankan, aku akan melakukan video call. Kualitasnya pun cukup bagus. Sayangnya, WeChat menempati banyak ruang di penyimpanan internal ponsel.

Menghubungi teman lama yang tinggal di kota tersebut.

Aku beruntung dulu pernah kuliah di salah satu universitas terkemuka di Beijing dan punya beberapa teman mahasiswa lokal yang berasal dari daerah lain. Aku akan menghubungi mereka dan menanyakan apakah mereka bersedia reuni denganku di akhir pekan. Sebagai informasi, orang-orang Tiongkok sangat sibuk dengan pekerjaan mereka setiap harinya dan mereka biasanya menemui teman mereka hanya pada saat akhir pekan. Oleh sebab itu, jangan kaget kalau teman Tiongkokmu jarang sekali membalas chat kamu. Kalaupun dibalas, biasanya hanya kalimat pendek saja. Namun, kalau mereka mengajakmu bertemu di akhir pekan, itu tandanya mereka menganggapmu teman sejati. Kamu sudah bukan orang asing lagi baginya. Setelah pekerjaanku selesai di akhir pekan dan ada temanku yang akan bertemu denganku, aku akan minta izin kepada klien. Meski hanya sekadar makan atau minum sederhana selama satu jam, tapi aku senang karena bisa berbagi cerita.

Mengabadikan lewat foto.

Kata orang, foto menyimpan jutaan makna. Jika temanku kebetulan berhalangan untuk menemuiku atau aku tidak punya teman di kota tersebut, di akhir pekan setelah bekerja aku akan pergi berkeliling kota sendirian, setelah mendapatkan izin dari klien. Namun, terkadang pula klien yang justru mengajakku untuk menemaninya berbelanja atau pergi berjalan-jalan dan menikmati kota. Siapa yang menolak.

Kalau aku sendirian, biasanya tempat yang paling sering kukunjungi adalah toko buku atau perpustakaan. Pemerintah Tiongkok sangat peduli akan pendidikan. Hampir di tiap kota di Tiongkok memiliki perpustakaan umum yang bebas dikunjungi siapa saja.

Istriku paling suka dengan bunga persik dan plum. Jika aku berangkat ke Tiongkok pada saat bunga persik dan plum mekar (biasanya awal Maret hingga awal April), aku akan memotretkan banyak sekali bunga persik dan plum untuknya.

Karena aku juga menulis novel, aku butuh dokumentasi berupa foto untuk membantuku memvisualisasikan setting, atau bahkan membantuku menemukan ide cerita baru. Setiap kali aku menemukan tempat yang kurasa bagus, aku akan mengabadikannya dengan kamera ponselku. Karena begitu banyaknya tempat yang kufoto selama ini, tanpa terasa, ruang penyimpananku di Google Photo juga penuh.

Jika kamu berada jauh dari keluarga, apa yang akan kamu lakukan?

8 Replies to “Ketika Harus Jauh dari Keluarga”

Tinggalkan Balasan ke admin Batalkan balasan