Suka Duka Menjadi Penerjemah (Bagian 1)

Artikel kali ini kuambil dari salah satu jawaban populerku di Quora Indonesia mengenai suka dan duka menjadi penerjemah.

Aku mengawali karierku sebagai seorang juru bahasa untuk pasangan bahasa Mandarin-Indonesia pada tahun 2011, bukan penerjemah. Aku sering mendampingi para pelaku bisnis di Indonesia, khususnya yang memiliki hubungan bisnis dengan Tiongkok dalam seminar, konferensi, rapat, pameran, atau kunjungan kerja, baik di Indonesia maupun di Tiongkok. Nantinya, aku juga akan menuliskan suka duka menjadi juru bahasa.

Sebelum terjun menjadi juru bahasa, aku adalah seorang penulis. Aku menulis beberapa novel yang sudah diterbitkan, juga beberapa buku kumpulan cerita dan cerita pendek. Aku menulis novel dan cerpen di sela-sela kesibukanku sebagai seorang wiraswasta. Namun, sebenarnya aku sudah melakukan hal itu sejak saat aku masih duduk di bangku sekolah. Aku bersyukur ketika duduk di bangku SMP, guru Bahasa Indonesiaku adalah orang yang super galak dan disiplin. Semua tugas yang dikerjakan harus ditulis rapi sesuai ejaan bahasa Indonesia yang benar beserta tanda bacanya, bisa dimengerti, dan tidak boleh ada singkatan yang tidak perlu (singkatan seperti KTP, SIM, masih diperbolehkan). Jika tidak ditulis dengan rapi, maka tidak akan dinilai dan itu benar adanya.

Aku memilih ekstrakurikuler jurnalistik karena hanya ekskul inilah yang tidak membutuhkan ketangkasan fisik. Lagi-lagi, beliau adalah pembimbing eskul ini. Dari beliaulah aku ditempa selama tiga tahun dan mendapatkan keterampilan menulis.

Karena aku juga mempunyai keterampilan menulis sekaligus kemampuan berbahasa Mandarin yang aku dapatkan dari pengajaran orang tua sejak kecil, ditambah dua tahun studi pasca sarjana di UIBE Beijing di jurusan Perdagangan Internasional, modal itulah yang membuatku juga terjun ke dunia penerjemahan.

Sumber: Pinterest.

Menjadi penerjemah tentu ada suka maupun dukanya. Adapun sukanya adalah:

Bisa bekerja dari rumah

Yang kubutuhkan hanyalah laptop, koneksi internet, listrik, dan seperangkat kamus untuk menunjang pekerjaanku. Tidak hanya di rumah saja. Aku bisa mengerjakannya di tempat lain. Bahkan, terkadang aku bosan dan pergi ke gerai Starbucks terdekat untuk menyelesaikan pekerjaanku. Suasana yang berbeda terkadang membawa mood yang berbeda. Jika aku bekerja di rumah, aku tidak perlu mengenakan pakaian formal. Seringkali aku bekerja dengan hanya menggunakan kaus dan celana pendek. Beda halnya jika aku harus melakukan video conference dengan klien. Setidaknya, aku harus rapi di hadapan kamera laptop. Bahkan, dengan bekerja di rumah, aku tidak perlu keluar uang untuk biaya transportasi. Aku juga tidak perlu melawan derasnya hujan, teriknya matahari, serta menentang arus macet di perjalanan selama jam masuk dan pulang kantor. Cukup beberapa langkah saja dari kamar tidurku ke ruang kerjaku yang nyaman. Apalagi sekarang di saat pandemi virus corona, bagiku sama sekali tak ada bedanya. Dari dulu hingga detik ini, saat aku menjadi penerjemah, ya kerjanya di rumah saja.

Banyak yang menganggapku genius

Di kota tempat domisiliku, tidak banyak generasi muda yang bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Mandarin dengan baik, lancar, dan benar. Yang paling sering adalah mereka hanya bisa bahasa Mandarin lisan, tapi buta huruf. Ada pula yang bisa bahasa Mandarin lisan, tapi banyak pengucapan maupun nada yang keliru. Karena bahasa dan budaya Tionghoa telah absen di Indonesia selama 32 tahun, tak heran kalau generasi muda Indonesia dari etnis Tionghoa tak banyak yang menguasai bahasa Mandarin, kecuali mengikuti kursus bahasa Mandarin, kuliah di Sastra Tionghoa, atau langsung belajar ke Tiongkok. Orang tuaku sendiri mengajarkan bahasa Mandarin kepadaku dan kakak-kakakku sejak kecil dengan tujuan melestarikan budaya nenek moyang. Maka, jika ada generasi muda di kotaku yang menguasai bahasa Mandarin dengan sangat baik, terlebih bisa menjadi guru bahasa Mandarin di sekolah internasional ataupun menjadi penerjemah dan/atau juru bahasa, tak heran kalau banyak yang menganggapnya genius dan akan memberikan standing applause. Belajar bahasa Mandarin memang membutuhkan waktu sedikit lebih lama daripada bahasa Inggris karena harus menghafalkan ribuan huruf dan lima nada. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran lebih jika ingin belajar bahasa Mandarin. Biasanya, seseorang baru menguasai kemampuan bahasa Mandarin dasar selama 1,5 hingga 2 tahun, tergantung seberapa keras dia belajar. Selain itu, faktor bakat dan guru juga menjadi salah satu penentunya.

Mendapatkan penghasilan yang layak

Orang yang menggeluti profesi sebagai penerjemah di Indonesia memang tidak banyak, karena sebagian besar tidak menganggapnya profesi yang keren seperti dokter, insinyur, atau CEO. Ditambah lagi dengan kehadiran mesin penerjemah, salah satunya Google Translator, menjadikan profesi ini semakin diremehkan. Padahal, Google Translator hanyalah alat bantu bagi para penerjemah supaya bisa mengerjakan proyek terjemahan mereka dengan lebih cepat, karena tidak perlu lagi membuka kamus fisik, kecuali jika harus mencari istilah tertentu yang hanya ada di dalam kamus. Itu pun penerjemah tidak boleh menggantungkan sepenuhnya kepada Google Translator, karena hasil terjemahan mesin tentu berbeda dengan hasil terjemahan manusia. Namun, jika penerjemah mau mengembangkan diri, belajar terus menerus, bersikap profesional, dan rajin bekerja serta berjejaring, bukan tidak mungkin profesi ini bisa diandalkan sebagai mata pencaharian utama, bahkan sangat layak untuk menghidupi keluarga. Jika tidak, tidak mungkin aku menjadi penerjemah dari tahun 2011 hingga sekarang, bukan?

[Bersambung ke bagian 2]

Tinggalkan Balasan