Suka Duka Menjadi Penerjemah (Bagian 2)

Setelah membicarakan mengenai hal-hal positif menjadi penerjemah, di artikel kali ini aku akan membagikan duka menjadi penerjemah. Mungkin ini juga berlaku untuk penerjemah pasangan bahasa lainnya.

Sering dianggap punya tuyul, babi ngepet, atau pesugihan, hanya karena bekerja dari rumah

Pekerjaanku sebenarnya bisa dilakukan di mana saja, asalkan ada laptop, internet, dan listrik. Namun, aku lebih suka bekerja dari rumah. Kalau ditanya, di mana aku bekerja, biasanya aku menjawab kalau aku bekerja di PT Djarum (baca: djaga rumah), karena aku tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi atau menghabiskan waktu berjam-jam di jalan karena terjebak macet. Hal itu menimbulkan kecurigaan di antara para tetanggaku, terutama kalangan baby boomers (generasi yang lahir di tahun 1960an) dan yang tidak melek teknologi. Mereka selalu bertanya-tanya, bagaimana mungkin aku bisa punya penghasilan hanya dari rumah saja? Bagi mereka, yang namanya bekerja halal adalah bekerja kantoran atau punya toko. Keluar dari rumah, pakai seragam kantoran yang rapi, dan pulang ke rumah saat sore hari. Sehingga hal ini menimbulkan kecurigaan di antara para tetangga generasi senior, jangan-jangan aku punya tuyul, babi ngepet, atau aneka jenis pesugihan lainnya. Hahaha … apalagi istriku saat itu masih bekerja kantoran dan sering dapat selentingan dari tetangga generasi senior yang selalu bilang, “Suamimu malas banget, sih. Suruh dia kerja, dong, kok jadi suami nggak bertanggung jawab sama keluarga, justru kamu yang kerja.” Hahaha … istriku hanya diam dan tersenyum menghadapi mereka, karena meski dia menjelaskan hingga mulut berbusa, mereka tidak akan mengerti. Namun, setelah pemerintah Indonesia mengeluarkan anjuran untuk bekerja di rumah selama masa pandemi coronavirus, mereka pun akhirnya paham bahwa ada beberapa jenis pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah, salah satunya penerjemah.

Ilustrasi tuyul. Sumber: Solo Pos.

Sering Berkejaran dengan Tenggat Waktu

Menjadi penerjemah lepas waktu harus mampu memanajemen waktu dengan baik. Kapan waktu untuk bekerja, kapan waktu untuk beristirahat dan untuk keluarga. Terkadang, proyek yang ditawarkan kepadaku punya batas waktu yang singkat. Jika ada proyek lain atau aku tidak sanggup mengerjakannya, aku tidak segan menolaknya. Mungkin kamu pernah tahu beberapa tahun lalu ada seorang content writer yang harus tutup usia di usianya yang masih muda karena kelelahan bekerja nonstop selama 48 jam. Aku tidak ingin mengorbankan kesehatanku, karena aku adalah tulang punggung keluarga. Bagiku, bekerja dan beristirahat atau melakukan pekerjaan lainnya, termasuk waktu untuk keluarga harus berimbang. Mungkin kelihatannya sepele, tapi menjadi penerjemah tak jarang harus lembur, karena klien mereka berada di zona waktu yang berbeda jauh. Hal ini biasanya dialami oleh penerjemah pasangan bahasa Inggris-Indonesia, yang mana sang penerjemah tinggal di Indonesia, sedangkan sang klien berada di belahan dunia yang lain.

Sering Diremehkan Karena Dianggap Sudah Ada Google Translator, Maka Tidak Perlu Lagi Jasa Penerjemah

“Sekarang kan sudah ada Google Translator, jadi buat apa menggunakan jasamu mahal-mahal?”

“Mendingan kamu kerja lainnya saja, deh. Penerjemah nggak ada masa depan. Sekarang kan sudah ada Google Translator. Lama kelamaan profesimu sudah nggak dibutuhkan lagi.”

Kami, para penerjemah pasangan bahasa apa pun, sering mendapatkan sindiran seperti ini. Namun, sebenarnya Google Translator hanyalah alat bantu saja. Ia hanya bisa menerjemahkan kata per kata, tapi tidak bisa menerjemahkan frasa, kalimat bertingkat, peribahasa, ungkapan, dan masih banyak lagi. Itu sebabnya, untuk menjadi penerjemah harus menguasai kedua bahasa secara mendalam, bukan hanya mengandalkan aplikasi penerjemah. Bahkan, salah satu penerjemah senior berkata bahwa selama manusia masih menghasilkan karya tulis, selama itu pula penerjemah masih dibutuhkan.

2 Replies to “Suka Duka Menjadi Penerjemah (Bagian 2)”

Tinggalkan Balasan