Apakah Google Translator Merupakan Ancaman Bagi Industri Penerjemahan?

Sejak mesin penerjemah Google Translator dirilis untuk publik pada tahun 2008, banyak pihak yang mulai meragukan, apakah mesin penerjemah ini akan menggantikan penerjemah manusia, mengingat semakin hari fungsinya semakin sempurna? Tak sedikit pula orang yang menakut-nakuti bahwa profesi penerjemah akan hilang dari peradaban. Ditambah lagi, mesin penerjemah lainnya, seperti Microsoft Bing Translator, Baidu Translator, dan Yandex juga bermunculan. Hal ini sempat membuat resah para penerjemah pada awalnya, terlebih para penerjemah yang hanya menggantungkan pendapatan mereka dari menerjemahkan. Namun, pada kenyataannya, sejak tahun 2008 hingga detik ini, tahun 2020, banyak agensi penerjemahan yang masih beroperasi dan jasa penerjemah makin dibutuhkan. Tentu banyak orang yang bertanya-tanya, mengapa bisa demikian? Mengapa meski sudah ada Google Translator, jasa penerjemah masih saja tetap laku? Adapun beberapa alasannya adalah:

Teks dari bahasa sumber dibuat oleh manusia

Harus kita akui bahwa hingga hari ini teks dari bahasa sumber dibuat oleh manusia. Manusialah yang memikirkan dan menuliskan atau mengetikkannya. Selama teks sumber dibuat oleh manusia, selama itu pulalah jasa penerjemah manusia akan dibutuhkan. Kecuali jika suatu saat nanti, entah abad ke berapa di masa depan, teks dari bahasa sumber dibuat oleh mesin, pada saat itulah jasa penerjemah manusia tidak diperlukan lagi. Pendapat ini juga diperkuat oleh Mbak Hetih Rusli, salah satu editor senior dan penerjemah di penerbit Gramedia Pustaka Utama, saat aku menghadiri sesi webinarnya. Manusia yang menciptakan mesin penerjemah, tentu mesin penerjemah itu tidak akan lebih hebat daripada penciptanya. Sama seperti Tuhan yang menciptakan manusia, manusia tidak akan lebih hebat daripada sang pencipta. Justru para penerjemah diuntungkan dengan adanya mesin penerjemah karena mereka bisa menghemat waktu menerjemahkan dan menjadi lebih produktif.

Salah satu mesin penerjemah yang sering digunakan oleh orang awam, Google Translator. Sumber: Google Translator.

Mesin penerjemah hanya bisa menerjemahkan per kata

Tujuan diciptakannya mesin penerjemah salah satunya adalah menggantikan fungsi kamus fisik. Sehingga kita tidak perlu lagi membolak-balik kamus untuk mencari arti suatu kata. Namun, perlu diketahui bahwa mesin penerjemah hanya bisa menerjemahkan per kata. Ia tidak bisa menerjemahkan frasa, peribahasa, idiom, atau kata-kata (terminologi) khusus dalam bidang yang lebih spesifik, misalnya saja bidang hukum, perminyakan, teknik, medis, dll. Misalnya saja, kita menemukan suatu episode film berjudul Dawn of Destiny. Penerjemah yang tidak peka bahasa akan langsung menerjemahkannya mentah-mentah menjadi Fajar Takdir dalam bahasa Indonesia. Padahal arti sebenarnya adalah Permulaan Takdir, karena fajar bisa dianggap sebagai permulaan hari atau waktu.

Oleh sebab itu, pengalaman, pengetahuan, dan kecakapan penerjemah tetap diperlukan, sehingga tidak menggantungkan diri pada hasil terjemahan mesin penerjemah yang seringkali hasilnya tidak akurat. Karena hingga saat ini, aku sering menjumpai orang yang bersikukuh dan meremehkan bahwa menjadi penerjemah itu mudah dan tidak perlu repot karena cukup hanya bermodalkan Google Translator saja, kemudian hasil terjemahannya diedit dan tidak perlu keahlian bahasa. Tentu saja ini adalah persepsi yang salah besar. Jika memang mesin penerjemah bisa menerjemahkan sehebat penerjemah manusia, untuk apa agensi atau klien bersedia mengeluarkan budget besar untuk membayar jasa penerjemah?

Hasil terjemahan mesin penerjemah tidak bisa seluwes penerjemah manusia

Apakah kamu pernah menerjemahkan novel dari bahasa asing ke bahasa Indonesia menggunakan mesin penerjemah? Apakah kamu bisa memahami maknanya atau justru makin bingung dan pusing ketika membacanya? Inilah yang dimaksud bahwa mesin tidak mempunyai emosi seperti manusia, sama halnya dengan robot. Pembaca maupun editor pasti bisa langsung mengetahui apakah suatu teks diterjemahkan dengan mesin penerjemah ataukah penerjemah manusia. Itulah sebabnya penerjemah manusia masih diperlukan. Selain itu, menerjemahkan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, karena lingkup pekerjaannya sendiri cukup kompleks.

Aku sangat menyarankan jika kamu benar-benar serius ingin terjun ke dalam dunia penerjemahan, perbanyaklah koneksi dengan para penerjemah senior untuk belajar dan menambah ilmu serta pengalaman dari mereka dan mengikuti kelas-kelas pelatihan maupun webinar penerjemahan. Dengan menjadi penerjemah, kamu akan tahu dan merasakan sendiri pahit manisnya profesi ini.

Menerjemahkan itu butuh belajar dan ada landasan teorinya

Ini adalah banyak hal yang tidak diketahui orang-orang. Penerjemahan itu adalah suatu bidang ilmu dan tidak bisa dipelajari secara instan. Jika klien mengembalikan hasil terjemahanmu dan mengatakan bahwa terjemahanmu buruk, sedangkan kamu sudah sangat yakin bahwa kualitas hasil terjemahanmu sudah sangat baik, maka kamu harus bisa memaparkan pendapatmu dengan landasan teori yang mendukung argumenmu. Apakah itu metode penerjemahan semantis, adaptatif, komunikatif, atau yang lainnya? Kamu tidak bisa berpendapat hanya dengan, “Menurut saya bla bla bla,”, “Saya rasa bla bla bla,”, karena itu terlalu subjektif. Terlebih lagi jika kamu berkata, “Menurut hasil Google Translator yang saya dapatkan, bla bla bla,” karena itu justru akan  menunjukkan bahwa kamu tidak profesional dan tidak kompeten. Jika demikian, cepat atau lambat, kamu akan dijauhi klien.

Penerjemah seringkali harus menerjemahkan dokumen rahasia

Google Translator dan mesin penerjemah lainnya adalah sumber terbuka (open source). Maksudnya adalah fasilitas ini bisa digunakan oleh siapa saja dan dari mana saja. Selain itu, mesin penerjemah dilengkapi dengan AI (artificial intelligence) dan sampai hari ini fungsinya masih terus disempurnakan. Oleh karena itu, para penggunanya bisa memberikan umpan balik untuk hasil terjemahan yang dirasa kurang tepat. Sebaliknya, para penerjemah seringkali mendapatkan orderan untuk menerjemahkan dokumen yang sifatnya rahasia, sesuai dengan bidang yang dikuasainya, sehingga ia harus menerjemahkan secara manual dan tidak boleh menggunakan bantuan mesin penerjemah.

Mengapa demikian? Dunia maya adalah dunia yang tidak aman. Siapa saja bisa melacak aktivitas kita, meski kamu sudah menggunakan VPN. Termasuk jika kamu menggunakan Google Translator. Kamu tidak akan pernah tahu frasa dan kata kunci apa saja yang sensitif dan rahasia dalam dokumen kita. Jika kamu mengetikkan teks sumber tersebut di Google Translator, maka otomatis kata atau frasa tersebut akan terekam dalam database Google Translator dan ini akan sangat berbahaya. Meski kamu sebagai penerjemah sudah menandatangani NDA (Non Disclosure Agreement) atau surat perjanjian rahasia yang menyatakan bahwa kamu tidak akan memberitahukan kepada pihak ketiga mengenai proyek yang kita kerjakan, tapi dengan menggunakan Google Translator, ini sama saja kamu sudah melanggar perjanjian kontrak yang disepakati dan kamu tanda tangani sendiri. Tentu saja kredibilitas sebagai penerjemah akan tercoreng, terlebih jika akhirnya teks dokumen terjemahan tersebut bocor (dan kejadian ini pernah terjadi). Akibatnya, penerjemah dapat dikenakan hukuman pidana atau perdata (atau bahkan keduanya) yang nilainya bisa mencapai miliaran rupiah, tergantung dari isi kontrak perjanjian antara penerjemah dan agensi atau klien.

Itulah sebabnya penerjemah tetap harus bisa menerjemahkan secara manual dan menguasai kedua bahasa dengan sangat baik. Itu pula sebabnya banyak agensi penerjemahan yang memiliki server mereka sendiri. Setiap kali penerjemah mengerjakan proyek, penerjemah harus masuk ke sistem server agensi dan mengerjakannya di sana. Hal ini dilakukan agensi untuk menjamin kerahasiaan isi materi dokumen terjemahan.

Demikian pula halnya jika penerjemah mengerjakan tes terjemahan. Meskipun tidak terikat NDA, tapi biasanya pihak agensi sudah memperingatkan untuk tidak menyebarkan isi tes terjemahan tersebut kepada orang lain atau ke forum-forum dan grup-grup di internet (termasuk grup di Facebook) untuk didiskusikan dengan penerjemah lainnya. Hal ini dilakukan agensi agar semua penerjemah punya hak dan kesempatan yang sama untuk bisa bergabung dalam tim dan proyek mereka.

Banyak rekan penerjemah senior yang masih meyakini dan mengamini bahwa profesi ini masih tetap akan ada di masa mendatang, kecuali jika mesin penerjemah bisa menggantikan peran dan fungsi penerjemah manusia sepenuhnya.

Suka Duka Menjadi Penerjemah (Bagian 1)

Artikel kali ini kuambil dari salah satu jawaban populerku di Quora Indonesia mengenai suka dan duka menjadi penerjemah.

Aku mengawali karierku sebagai seorang juru bahasa untuk pasangan bahasa Mandarin-Indonesia pada tahun 2011, bukan penerjemah. Aku sering mendampingi para pelaku bisnis di Indonesia, khususnya yang memiliki hubungan bisnis dengan Tiongkok dalam seminar, konferensi, rapat, pameran, atau kunjungan kerja, baik di Indonesia maupun di Tiongkok. Nantinya, aku juga akan menuliskan suka duka menjadi juru bahasa.

Sebelum terjun menjadi juru bahasa, aku adalah seorang penulis. Aku menulis beberapa novel yang sudah diterbitkan, juga beberapa buku kumpulan cerita dan cerita pendek. Aku menulis novel dan cerpen di sela-sela kesibukanku sebagai seorang wiraswasta. Namun, sebenarnya aku sudah melakukan hal itu sejak saat aku masih duduk di bangku sekolah. Aku bersyukur ketika duduk di bangku SMP, guru Bahasa Indonesiaku adalah orang yang super galak dan disiplin. Semua tugas yang dikerjakan harus ditulis rapi sesuai ejaan bahasa Indonesia yang benar beserta tanda bacanya, bisa dimengerti, dan tidak boleh ada singkatan yang tidak perlu (singkatan seperti KTP, SIM, masih diperbolehkan). Jika tidak ditulis dengan rapi, maka tidak akan dinilai dan itu benar adanya.

Aku memilih ekstrakurikuler jurnalistik karena hanya ekskul inilah yang tidak membutuhkan ketangkasan fisik. Lagi-lagi, beliau adalah pembimbing eskul ini. Dari beliaulah aku ditempa selama tiga tahun dan mendapatkan keterampilan menulis.

Karena aku juga mempunyai keterampilan menulis sekaligus kemampuan berbahasa Mandarin yang aku dapatkan dari pengajaran orang tua sejak kecil, ditambah dua tahun studi pasca sarjana di UIBE Beijing di jurusan Perdagangan Internasional, modal itulah yang membuatku juga terjun ke dunia penerjemahan.

Sumber: Pinterest.

Menjadi penerjemah tentu ada suka maupun dukanya. Adapun sukanya adalah:

Bisa bekerja dari rumah

Yang kubutuhkan hanyalah laptop, koneksi internet, listrik, dan seperangkat kamus untuk menunjang pekerjaanku. Tidak hanya di rumah saja. Aku bisa mengerjakannya di tempat lain. Bahkan, terkadang aku bosan dan pergi ke gerai Starbucks terdekat untuk menyelesaikan pekerjaanku. Suasana yang berbeda terkadang membawa mood yang berbeda. Jika aku bekerja di rumah, aku tidak perlu mengenakan pakaian formal. Seringkali aku bekerja dengan hanya menggunakan kaus dan celana pendek. Beda halnya jika aku harus melakukan video conference dengan klien. Setidaknya, aku harus rapi di hadapan kamera laptop. Bahkan, dengan bekerja di rumah, aku tidak perlu keluar uang untuk biaya transportasi. Aku juga tidak perlu melawan derasnya hujan, teriknya matahari, serta menentang arus macet di perjalanan selama jam masuk dan pulang kantor. Cukup beberapa langkah saja dari kamar tidurku ke ruang kerjaku yang nyaman. Apalagi sekarang di saat pandemi virus corona, bagiku sama sekali tak ada bedanya. Dari dulu hingga detik ini, saat aku menjadi penerjemah, ya kerjanya di rumah saja.

Banyak yang menganggapku genius

Di kota tempat domisiliku, tidak banyak generasi muda yang bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Mandarin dengan baik, lancar, dan benar. Yang paling sering adalah mereka hanya bisa bahasa Mandarin lisan, tapi buta huruf. Ada pula yang bisa bahasa Mandarin lisan, tapi banyak pengucapan maupun nada yang keliru. Karena bahasa dan budaya Tionghoa telah absen di Indonesia selama 32 tahun, tak heran kalau generasi muda Indonesia dari etnis Tionghoa tak banyak yang menguasai bahasa Mandarin, kecuali mengikuti kursus bahasa Mandarin, kuliah di Sastra Tionghoa, atau langsung belajar ke Tiongkok. Orang tuaku sendiri mengajarkan bahasa Mandarin kepadaku dan kakak-kakakku sejak kecil dengan tujuan melestarikan budaya nenek moyang. Maka, jika ada generasi muda di kotaku yang menguasai bahasa Mandarin dengan sangat baik, terlebih bisa menjadi guru bahasa Mandarin di sekolah internasional ataupun menjadi penerjemah dan/atau juru bahasa, tak heran kalau banyak yang menganggapnya genius dan akan memberikan standing applause. Belajar bahasa Mandarin memang membutuhkan waktu sedikit lebih lama daripada bahasa Inggris karena harus menghafalkan ribuan huruf dan lima nada. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran lebih jika ingin belajar bahasa Mandarin. Biasanya, seseorang baru menguasai kemampuan bahasa Mandarin dasar selama 1,5 hingga 2 tahun, tergantung seberapa keras dia belajar. Selain itu, faktor bakat dan guru juga menjadi salah satu penentunya.

Mendapatkan penghasilan yang layak

Orang yang menggeluti profesi sebagai penerjemah di Indonesia memang tidak banyak, karena sebagian besar tidak menganggapnya profesi yang keren seperti dokter, insinyur, atau CEO. Ditambah lagi dengan kehadiran mesin penerjemah, salah satunya Google Translator, menjadikan profesi ini semakin diremehkan. Padahal, Google Translator hanyalah alat bantu bagi para penerjemah supaya bisa mengerjakan proyek terjemahan mereka dengan lebih cepat, karena tidak perlu lagi membuka kamus fisik, kecuali jika harus mencari istilah tertentu yang hanya ada di dalam kamus. Itu pun penerjemah tidak boleh menggantungkan sepenuhnya kepada Google Translator, karena hasil terjemahan mesin tentu berbeda dengan hasil terjemahan manusia. Namun, jika penerjemah mau mengembangkan diri, belajar terus menerus, bersikap profesional, dan rajin bekerja serta berjejaring, bukan tidak mungkin profesi ini bisa diandalkan sebagai mata pencaharian utama, bahkan sangat layak untuk menghidupi keluarga. Jika tidak, tidak mungkin aku menjadi penerjemah dari tahun 2011 hingga sekarang, bukan?

[Bersambung ke bagian 2]