Tips Banjir Job

Kadang aku mendapat curcol dari rekan sesama penerjemah, mengapa mereka sepi proyek. Hasil terjemahan sudah benar, tidak ada komplain dari agensi atau klien, tapi seolah proyek terjemahan enggan menyapa mereka. Setelah satu proyek selesai, banyak di antara mereka harus bersusah payah mencari proyek berikutnya.

Aku tidak menyalahkan kondisi pandemi seperti saat ini. Memang kuakui kalau saat pandemi seperti ini, hampir semua bidang terkena imbasnya, baik langsung atau tidak langsung. Namun, saat pandemi berakhir, tips dariku ini bisa kamu terapkan, siapa tahu kamu langsung kebanjiran job hingga kewalahan (Amin!), hahaha. Lagipula, siapa sih yang nggak senang kalau dapat repeat order? Simak tipsnya di bawah ini.

Senangnya kalau banjir order. Sumber: 123rf.com

Masukkan CV ke banyak agensi penerjemahan.

Jadi, sumber penghasilan kita tidak hanya dari satu agensi. Jika agensi A sedang tidak ada proyek, kita masih bisa berpeluang mendapat proyek dari agensi B, dst. Apalagi kalau kinerja kita bagus, agensi pasti akan pakai jasa kita lagi. Hal yang sama juga berlaku untuk klien langsung. Sebelum mengirimkan CV, ada baiknya kalau kita mengetahui lebih dulu informasi mengenai calon agensi yang kita tuju atau calon klien. Jika kita diajak berkolaborasi dengan rekan penerjemah atau agensi lain, selama bayarannya sepadan dan tugasnya sesuai dengan kemampuan dan keahlian kita, mengapa kita harus menolaknya?

Harus Pandai Mengatur Keuangan

Biasanya komisi yang diberikan agensi akan ditransfer 60 hari terhitung setelah proyek selesai dan terjemahan kita sudah disetujui oleh tim QA (quality assurance). Jika komisi kita dibayarkan melalui Paypal, kita masih harus menunggu dua hari lagi agar komisi tersebut cair ke rekening kita. Oleh karena itu, kita harus bijak menggunakan uang kita. Sediakan juga dana darurat.

Jalin hubungan yang baik dengan para project manager, HRD, resource manager dan rekan penerjemah lain.

Setiap hari raya Imlek, festival bakcang, Mooncake Festival, atau festival khas Tionghoa lainnya, aku selalu rajin mengirimkan kartu ucapan elektronik atau bahkan surel biasa untuk memberikan ucapan kepada para project manager dan resource manager, baik yang memberikan proyek kepadaku maupun yang belum. Tujuannya adalah menjalin hubungan jangka panjang. Jadi, kita tidak hanya baik kepada mereka hanya kalau ada proyek saja dan kalau tidak ada proyek kita menghilang. Sesekali kita boleh japri mereka menanyakan kabar, tapi jangan mengungkit masalah pekerjaan. Oh, ya. Kartu ucapan elektronik atau surel ucapannya lebih baik dikirim satu per satu. Memang melelahkan dan terkesan membuang waktu, tapi mereka akan jauh lebih respek terhadap kita nantinya. Kita juga perlu menjalin hubungan baik dengan rekan sesama penerjemah karena siapa tahu rezeki kita berasal dari mereka, semisal diajak berkolaborasi. Jalinlah pertemanan dengan tulus, jangan hanya mendekati mereka untuk tujuan tertentu (misal hanya ingin mendapatkan informasi dari mana mereka dapat jobnya, kemudian menghilang setelah direferensikan. Kita sendiri tentu tidak ingin diperlakukan seperti itu, bukan?).

Utamakan proyek jangka panjang atau proyek kecil tapi rutin.

Dengan demikian, kondisi dompet kita aman. Aku pernah mengerjakan terjemahan untuk proyek di bidang ekonomi digital dari tahun 2011–2013. Proyeknya dikerjakan dengan tenggat waktu mingguan dan volume jumlah katanya tiap minggunya memang tidak begitu besar dan aku masih bisa mengerjakan yang lain, tapi aku senang karena setidaknya selama 2 tahun kontrak aku punya pendapatan pasti. Tinggal diakumulasikan saja, sedikit-sedikit lama-lama jadi gunung (bukan bukit lagi, hehehe). Aku juga pernah mengerjakan proyek terjemahan novel selama 6 bulan dari salah satu penerbit di Indonesia dan aku selalu mengutamakan untuk mengerjakan proyek tersebut lebih dulu, disusul yang lainnya.

Menerjemahkan tidak hanya melulu mengerjakan terjemahan dokumen.

Kita juga bisa mencoba mengerjakan subtitle atau transcribber. Sama seperti poin pertama, supaya kalau terjemahan dokumen sepi, kita masih punya peluang bisa mendapat proyek dari subtitle atau transcribber. Saling melengkapi, kan?

Jika agensi menawarkan posisi lain untuk kita, seperti editor atau QA, terima saja. 

Itu artinya agensi percaya dengan kemampuan kita. Terkadang orang lain justru lebih bisa melihat bakat dan kemampuan kita dibandingkan diri kita sendiri. Asalkan bayarannya sepadan dengan beban pekerjaannya tentu tidak masalah. Selain menerjemahkan, aku juga menjadi Indonesian language lead, yang tugasnya memeriksa kualitas terjemahan. Pekerjaan ini juga ditawarkan oleh agensi kepadaku, lho.

Jangan banting harga.

Seringkali hanya demi memenangkan proyek atau mendapat tekanan dari klien, penerjemah sering banting harga. Bahkan, aku juga sempat miris saat melihat ada seorang penerjemah yang menawarkan jasa terjemahan sebesar Rp 50,- per kata. Aku hanya bisa mengelus dada, karena belajar bahasa dan menerjemahkan itu butuh waktu yang lama. Akibatnya, jika beralasan jika tidak banting harga tidak bisa mendapatkan klien, penerjemah bisa jadi mengerjakan terjemahannya tidak tulus dan berat hati. Kondisi psikologis ini pasti mempengaruhi hasil terjemahan. Akibatnya, kita yang kena komplain dari agensi atau klien karena kualitas terjemahan buruk. Ada harga, ada barang. Mau minta bagus, jangan minta murah. Kalau kita banting harga, nanti lama-lama kita pasti punya pikiran kalau jadi penerjemah itu madesu dan penghasilannya tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup, padahal kesalahan ada pada diri kita sendiri. Selain itu, kalau kita banting harga, agensi juga bisa menilai kualitas kita juga yah begitulah, tidak sesuai ekspetasi. Niat banting harga demi mendapat proyek, justru kita yang diabaikan agensi atau klien. Kalau bukan kita yang menghargai diri kita sendiri, bagaimana kita bisa menuntut orang lain menghargai kita?

Itulah tips-tips yang bisa kubagikan dalam artikel kali ini. Tips-tips ini juga bisa diterapkan bagi kamu yang bekerja di bidang lain.


Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan